Afirmasi Itu Perlu!

Ada yang mengkategorikan afirmasi ini terbagi menjadi dua yaitu afirmasi positif dan afirmasi negatif. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya mengetahui dulu apa afirmasi itu?
Afirmasi adalah pernyataan-pernyataan positif dan spesifik yang ditujukan kepada diri sendiri.
Afirmasi dapat membantu mengatasi pikiran-pikiran negatif dan “sabotase” diri, mem-visualisasikan dan mempercayai apa yang Anda nyatakan pada diri sendiri; dan hal-hal lain yang membuat perubahan positif dalam hidup.

So, jika dilihat dari hal tersebut, maka ada baiknya kita hanya melihat afirmasi yang tergolong positif aja agar hidup kita pun dipenuhi energi positif.
Agar bisa memberikan hasil, afirmasi harus diulang-ulang secara terus menerus di berbagai kesempatan. Ketika mengucapkan afirmasi, bisa dengan bersuara, atau tidak bersuara. Biasanya, citra diri baru akan terbentuk setelah 5-6 minggu. Jika anak melakukan afirmasi secara terus menerus; citra diri yang sesuai dengan isi afirmasi anak. Pada saat citra diri anak berubah, maka pikiran, ucapan dan tindakan anak juga akan berubah. Dan pada gilirannya, sikap anak juga akan berubah. Maka sebagai guru, hendaknya selalu memberikan afirmasi secara terus-menerus kepada anak, tentunya dengan bahasa yang dipahami anak bukan yang abstrak.
Contoh : "Saya menjadi anak pintar menghapal hadist"
Bukan memberi afirmasi seperti diberikan kepada orang dewasa : "Saya akan menjadi orang sukses".

Dan hari ini pun saya memberi afirmasi kepada anak saya ketika menemani saya memberi support kepada teman di pembinaan kepala dan Guru RA berprestasi yang akan maju ke tingkat nasional, "Citra bisa menjadi Juara Kepala Sekolah se-Indonesia". Karena sebelumnya pun saya sudah pernah mengafirmasi suatu saat lukisan suami saya akan ada di Balai Budaya, alhamdulillah Allah mengabulkannya.


Semoga bermanfaat
Wiwik Suryandarini

Ada apa dengan KMA No, 792?

Bismillahirrahmanirrahiim

Sebelum mebahasnya, saya akan perkenalkan dulu KMA.
KMA adalah singkatan dari Keputusan Menteri Agama.
Maka jika melihat singkatan tersebut, tentu sudah terbangun mindset-nya ini adalah peraturan untuk pendidikan madrasah yang berada dibawah binaan Kementerian Agama, mulai dari Raudhatul Athfal hingga Pendidikan Madrasah lainnya.

KMA ini lahir adalah sebagai pegangan bagi para guru sehingga mempunyai landasan yang jelas pada saat mengajar. Di KMA ini pendidikan agama Islam dapat terintergrasi dalam kegiatan pembelajaran dan dapat pula berdiri sendiri.

Ruang lingkup pembelajaran meliputi :
a. Pendidikan Agama Islam
b. Pembelajaran Matematika
c. Pembelajaran Keaksaraan
d. Pembelajaran Seni
e. PEmbelajaran Sains
f. PEmbelajaran Sosial
g. Pembelajaran Tehnologi

KMA No. 792 memiliki 9 Juknis untuk memperkuat keberadaan Raudlatul Athfal (RA). Kesembilan juknis yang merupakan implementasi kurikulum RA yang dituangkan dalam SK Ditjen Pendis Nomor 2761 s.d 2769 Tahun 2019.

Lebih lanjut dan untuk mendownloadnya, teman-teman dapat lansung ke link ayomadrsah ini :
https://ayomadrasah.blogspot.com/2019/07/juknis-ktsp-ra-sk-dirjen-no-2761-2019.html

Inilah yang membedakan kurikulum yang lalu dengan yang sekarang mulai dari pedomannya hingga penilaian di rapot digital.
Semoga perubahan ini akan memberikan angin segar di kalangan pendidikan madrasah sehingga lebih dipercaya lagi oleh orangtua yang mengamanahkan anaknya di madrasah dalam jenjang pendidikan apapun.

Jika ada pertanyaan, mengapa ada pembelajaran matematika?
Kan tidak boleh diajarkan di RA.
Mengapa ada pembelajaran keaksaraan di RA?
KAn anak belum boleh diajarkan membaca.

Pembelajaran tersebut boleh diajarkan di RA, silahkan baca dulu secara keselurahan 9 juknis tersebut dan kegiatan membaca dapat diajarkan di RA selama kegiatan tersebut dengan menggunakan metode bermain sambil belajar.

So, be postive person and be an inspiring teacher.

Salam
Wiwik Suryandarini
(Inspirator Guru, Penulis Buku, Founder KGI, Sekretaris IGRA Jakarta Pusat
Alumni AT dan masih belajar di Universitas Kehidupan)

Permainan Metode BBM dapat membantu kegiatan di sekolah dalam mengenalkan keaksaraan.


Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin. Adapun manfaat dari metode Flashcard antara lain (Kaskus, 2010) adalah :
1.         Anak akan dapat membaca pada usia sedini mungkin.
2.         Mengembangkan daya ingat otak kanan.
3.         Melatih kemampuan konsentrasi anak.
4.         Memperbanyak perbendaharaan kata dari anak.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti :
1.        Photographic memory
2.        Speed reading, listening
3.        Automatic mental processing
4.        Mass-memory
5.        Multiple language acquisition
6.        Computer-like math calculation
7.        Creativity in movement, music and art
8.        Intuitive insight

Begitu luar biasanya fungsi dari otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan masyarakat, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri. Sistem pendidikan dan masyarakat juga saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu saja sejak anak masuk ke Sekolah Dasar.

Dalam hal ini bukan berarti kegunaan otak kiri tidak penting, otak kiri sangatlah penting, tetapi perkembangan otak kanan tidak bisa diabaikan, artinya diperlukan keseimbangan kemampuan kedua belah otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal, dan otak kanan dari anak juga ikut dikembangkan sebelum anak terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan otak kanan, antara lain dengan image training, visualisasi, termasuk juga dengan permainan Flash card ini.

Metode Flash card sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

Sumber : Beberapa makalah

Pemesanan Permainan Literasi dapat dipesan melalui channel 08190744451.
Kegiatan sharing online dapat lansung ke link ini yah:
https://chat.whatsapp.com/Kw8kVu3H5OC7jCWTxvLuB2


SKRINING PERKEMBANGAN

Skrining perkembangan merupakan prosedur yang didesain untuk mengidentifikasi anak yang harus mendapatkan penilaian yang lebih intensif. Skrining digunakan untuk mendeteksi deviasi yang tak terduga dari perkembangan normal yang tidak seharusnya ada. Tujuan utama dari skrining adalah untuk mengidentifikasikan secepatnya disabilitas perkembangan pada anak yang beresiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan pada usia dini dimana penanganan paling efektif. Skrining bukan merupakan tes yang hanya dilakukan pada satu waktu, tetapi lebih merupakan proses dan prosedur yang digunakan pada periode waktu tertentu.
Tes skrining yang ideal harus mempunyai sensitivitas (mendeteksi hampir semua masalah pada anak) dan spesifitas (dapat mendeteksi anak dengan keterlambatan) yang tinggi. Tes tersebut juga harus dapat mengukur apa yang seharusnya terukur (validitas), memberikan hasil yang sama pada penggunaan berulang oleh pemeriksa yang berbeda, murah dan cepat digunakan.
Skrining perkembangan yang ideal tidak sepenuhnya ada. Tabel 2 mencantumkan beberapa tes skrining perkembangan yang sering digunakan dan keterbatasannya.  Perlu dipisahkan antara skrining perkembangan, penilaian perkembangan maupun survailans perkembangan. Penilaian perkembangan ditujukan kepada pemeriksaan yang lebih detail dari perkembangan yang tertunda. Di satu sisi, survailans perkembangan merupakan tes yang berkelanjutan, fleksibel, dan proses yang komprehensif dimana termasuk aktifitas yang berhubungan pada deteksi dari masalah perkembangan dan promosi perkembangan selama kunjungan primer kesehatan anak. Survailans perkembangan termasuk identifikasi dari keadaan keluarga, observasi anak, skrining, dan imunisasi.

Terdapat tiga pendekatan pada proses skrining, yaitu skrining perkembangan informal, skrining perkembangan rutin dan skrining perkembangan terfokus. Skrining perkembangan informal berdasarkan observasi pada saat pemeriksaan rutin anak dan menanyakan orang tua mengenai perhatian mereka terhadap perkembangan anaknya. Ahli anak, bagaimanapun juga perlu membiasakan diri dengan berbagai variasi milestone perkembangan anak pada berbagai tingkat usia. Hal ini bukanlah tugas mudah untuk para klinisi umum. Nilai batas atas normal telah dipergunakan sebagai panduan untuk mengidentifikasikan keterlambatan. Sebagai tambahan, beberapa penelitian juga melaporkan bahwa ahli anak seringkali tidak akurat dalam memprediksikan status perkembangan anak. Hampir setengah dari keterlambatan perkembangan tidak teridentifikasi oleh ahli anak. Terlebih lagi, pengetahuan orang tua mengenai perkembangan anak sangat mempengaruhi, dikarenakan orang tua tidak mengindahkan pentingnya keterlambatan perkembangan. Daya ingat orang tua dari milestone perkembangan seringkali tidak akurat dan telah dilaporkan bahwa orang tua terlihat terlalu berlebihan dalam menilai perkembangan bahasa dari anak dan tidak mengindahkan kemampuan motorik halus dari anak. Didalam permasalahan ini seorang ahli penyakit anak tidak mungkin mampu mengidentifikasi secara benar anak yang mempunyai keterlambatan perkembangan pada mayoritas anak dengan keterlambatan perkembangan melalui metode skrining informal.
Skrining perkembangan formal dilakukan secara sistematis dengan menggunakan insrumen skrining yang telah terstandarisasi. Bagaimanapun juga pendekatan ini membutuhkan waktu yang banyak dan orang yang terlatih. Dan tidak dapat pula menjamin untuk dapat menurunkan insiden dari masalah perkembangan pada populasi anak dengan resiko rendah. Meskipun di negara berkembang, kegunaan dari skrining perkembangan rutin masih tetap dipertanyakan. Di swedia, dimana telah mempunyai sistem skrining yang sangat terorganisasi pada pusat pusat kesehatan anak, penelitian telah membuktikan bahwa pemeriksaan rutin pada pusat kesehatan hanya membuat perbedaan kecil dalam deteksi dini cerebral palsi.

Skrining perkembangan yang terfokus melibatkan dua kelompok anak, yaitu (a) anak dengan orang tua yang memberi perhatian yang lebih pada perkembangan anak dan guru atau dokter yang mencurigai adanya masalah, (b) neonatus dengan kondisi resiko tinggi untuk terjadinya keterlambatan perkembangan.


Semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini

Dapatkan buku "Be An Inspiring Teacher" seharga Rp. 60.000 selama bulan puasa


PENYIMPANGAN PERKEMBANGAN ANAK





Meskipun beberapa keterlambatan perkembangan pada perkembangan milestone bahasa, motorik, atau sosial adaptif dapat bersifat sementara, keterlambatan perkembangan pada usia dini sangat erat hubungannya dengan diagnosis dari disabilitas perkembangan seperti retardasi mental, serebral palsi, gangguan bicara, autis dan kesulitan belajar pada perkembangan anak lebih lanjut. Terlebih lagi, adanya bukti bahwa identifikasi dini dan penanganan anak dengan kondisi perkembangan yang terganggu dapat meningkatkan hasil akhir secara fungsional dan menurunkan resiko dari masalah tingkah laku sekunder

Kemampuan berbicara dan berbahasa telah dipertimbangkan oleh para ahli sebagai indikator yang baik terhadap perkembangan anak secara keseluruhan dan kemampuan kognitif yang berhubungan dengan keberhasilan pendidikan. Identifikasi anak dengan keterlambatan perkembangan atau masalah yang berkaitan dapat mengarahkan kepada intervensi ketika usia dini dimana kemungkinan untuk perbaikan paling baik. Penilaian perkembangan anak meliputi identifikasi masalah-masalah perkembangan anakdengan screening (skrining/penapisan/penjaringan) dan surveillance ukuran standart atau non standart, yang juga digabungkan dengan informasi tentang perkembangan sosial, riwayat keluarga, riwayat medik dan hasil pemeriksaan mediknya.

Tolak ukur perkembangan meliputi motorik kasar, motorik halus, berbahasa, dan prilaku sosial. Dikatakan terdapat penyimpangan apabila kemampuan anak tidak sesuai dengan tolak ukur (milestone) anak normal. Dalam survei diperoleh informasi kepedulian orang tua terhadap perkembangan dan prilaku anaknya. Kategori kepedulian orang tua dalam deteksi penyimpangan
perkembangan anak :
1. Emosi Dan Perilaku
2. Berbicara Dan Berbahasa
3. Keterampilan Sosial Dan Menolong Diri Sendiri
4. Motorik Kasar
5. Motorik Halus
6. Membandingkan Dengan Lingkungan
7. Masalah Anak Yang Orang Tuanya Tidak Mengeluh

Semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini

Dapatkan buku "Be An Inspiring Teacher" seharga Rp. 60.000 selama bulan Puasa ini

Model Pembelajaran Area Balok dan Area Seni

Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di University of Tnnessee, Knoxville yang dilandasi oleh teori Piaget dengan pendekatan konstruktivis.

Model pembelajaran bermain kreatif dengan pendekatan pembelajaran konstruktivis merupakan sebuah konsep pembelajaran dengan dasar teori perkembangan anak dimana anak akan membangun pengetahuannya sendiri. Pendekatan konstruktivis memberikan pendidikan yang menyeluruh pada anak usia dini.

Konsep model pembelajaran bermain kreatif tersebut terdiri dari praktek pembelajaran untuk anak, konten area untuk anak, seperangkat asesmen untuk mengukur tingkah laku dan kemajuan anak, dan model pelatihan untuk membantu orang dewasa dalam mendukung perkembangan anak.

Pembelajaran disusun berdasarkan kepercayaan bahwa anak belajar dengan baik melalui pembelajaran yang aktif (active learning), pengalaman langsung, interaksi dengan orang dewasa, kejadian dan ide-ide.

Ruang-ruang kelas ditata sedemikian rupa dengan sangat selektif, berhati-hati agar pembelajaran aktif pada anak dapat terjadi. Area dibagi berdasarkan area minat anak yang diatur dalam permainan yang spesifik, seperti area balok, area perpustakaan, area rumah tangga, area memasak, area pasir dan air, area seni.




1.   Area Balok

Balok adalah peralatan yang standar untuk kelas anak-anak yang pertama dan itu penting untuk mengimplementasikan Kurikulum Kreatif. Balok-balok kosong cocok untuk anak-anak yang menyukai permainan dramatik. Dalam waktu yang singkat balok-balok yang besar ini menjadi sebuah boneka, rumah, sebuah bis, atau alat pemadam kebakaran.

Unit balok-balok ini menyediakan sebuah kekayaaan dalam belajar aktivitas ini yang mengizinkan anak-anak untuk mendapatkan konsep-konsep dalam matematika, pengetahuan alam, geometri, ilmu sosial, dan banyak lagi.

Balok kayu adalah kebutuhan yang alami untuk anak kecil karena balok-balok itu halus, keras dan simetris. Anak-anak suka untuk mengembangkan karakter fisik balok-balok itu dengan menyentuhnya, mengusapnya, dan memukul balok-balok itu bersama untuk mendengarkan suara balok-balok itu.

Balok kayu adalah permaianan material yang mengajak anak-anak untuk menciptakan sesuatu yang mau. Di sini tidak ada cara yang benar atau salah untuk meciptakan sesuatu dengan balok-balok itu-anak-anak dapat membuatnya semau mereka.

Kadang-kadang anak-anak memulai dengan sebuah idea apa yang mereka ingin buat, dan juga desain tiga dimensi ini berkembang sesuai bagaimana anak-anak menempatkan balok bersama secara acak atau dengan pola.

Seperti seni lainnya, kreasi anak-anak menghasilkan dengan balok-balok tersebut sering mengingatkan mereka pada apa yang pernah mereka lihat, jadi mereka mulai untuk menamakan apa yang mereka ciptakan: rumah, jala, atau pesawat roket.

Membangun balok penting untuk perkembangan kognitif (kemampuan untukmemandang sesuatu). Seperti pengalaman anak-anak dengan dunia sekelilingnya,mereka membentuk gambaran di pikiran mereka dari apa yang mereka lihat.

Bermain dengan balok memberi mereka sebuah kesempatan unutk menciptakan kembali gambar-gamabar ini dalam bentuk nyata. Kemampuan menciptakan ini yang mewakilkan pengalaman-pengalaman mereka adalah sesuatu kemampuanpenting dimulai dari pikiran yang abstrak.

Terlebih lagi, karena balok-balokdidesain dalam unit matematika, anak-anak bermain dengan itu mendapat pengertian yang nyata dari konsep yang penting untuk berpikir logis. Mereka belajar tentang ukuran, bentuk, jumlah, jenis, area, panjang, dan berat sebagai apa yang mereka pilih, ciptakan, dan membersihkan balok-balok.

Balok-balok permainan yang bernilai untuk perkembangan fisikal. Anak-anak menggunakan otot-otot besar mereka untuk membawa balok-balok dari satu tempat yang satu ke tempat yang lain. Mereka menempatkan balok-balok bersama dengan cermat untuk membentuk sebuah jembatan atau desain yang rumit, mereka menyempurnakan otot-otot kecil di tangan mereka, yang penting untuk menulis.

Kompetensi pembelajaran dalam permainan balok adalah anak-anak dapat merealisasikan banyak keuntungan dari permainan balok saat guru mereka menetapakan Kompetensi yang realistik dan cocok untuk perkembangan mereka.

Urutan di bawah adalah contoh Kompetensi yang dapat anda tempatkan sebagai anak-anak yang bermain dengan balok-balok.

Kompetensi Untuk Perkembangan Sosial-Emosi:

a.   Bekerja dengan bebas dan dalam sebuah kelompok (memutuskan kapan, bagaimana, dan dengan siapa mereka bermain.)
b.   Menunjukkan kebutuhan, konsentrasi, dan ketakutan dalam jalan sosial yang dapat diterima (menciptakan rumah sakit atau gua dengan monster dan bermain membuat kepercayaan)
c.   Berbagi dan bekerjasama dengan yang lain (menjual barang dan tiang dan merencanakan proyek pembangunan bersama)
d.   Mendemonstrasikan kebanggaan dalam menyelesaikan dan sebuah konsep diri sendiri yang positif (membagikan bangunan mereka dengan berbicara mengenai apa yang mereka ciptakan)

Kompetensi dari perkembangan kognitif:

a.   Mengembangkan sebuah pengertian tentang konsep, berat, dan area (membawa balok dan menggunakan balok-balok dalam konstruksi)
b.   Mengklasifikasikan dan menyusun objek dengan ukuran, bentuk, dan fungsi (menempatkan balok-balok dalam ukuran yang sama)
c.   Membuat kegunaan prinsip-prinsip fisikal (mengembangkan berat, stabilitas, persamaan, keseimbangan, dan kekuatan untuk mengungkit )
d.   Memprediksikan penyebab dan efek persahabatan (melihat seberapa tinggi mereka dapat membangun mereka sebelum balok-balok itu jatuh)
e.   Menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konstruksi (membuat jembatan atau langkah-langkah membuat rumah)
f.    Mengorganisasikan dalam sebuah baris (membuat balok dari rendah ke tinggi dan menghitung dengan benar)
g.   Menggunakan tambahan, dasar dan pecahan (menetapkan berapa banyak balok yang diperlukan untuk mengisi jarak yang kosong)
h.   Mengembangkan kemampuan membaca dan menulis (membuat tanda untuk bangunan)
                                      
Kompetensi dari Perkembangan Fisikal:

a.   Menggunakan kemampuan otot kecil dan besar (memegang, mengangkat, menempatkan dan menyeimbangkan balok-balok)
b.   Mengembangkan koordinasi antara mata dan tangan (menempatkan balok pada pola yang benar)
c.   Mengontrol tempat objek-objek (bawah, atas, di atas, di bawah, di atas, dari, dan di sebelah saat berkontraksi dengan balok-balok)

2.   Area Seni

Sebagian besar anak kecil biasanya menyenangi seni. Mereka menyukai proses penggunaan cat ke kertas, menempel-nempelkan, memukul-mukul lilin.

Bekerja dengan material seni menawarkan anak-anak kesempatan untuk bereksperimen dengan warna, bentuk, rancangan, dan tektur. Menggunakan material seni seperti lukisan, lilin, spidol, krayon, kanji dari tepung jagung, dan susunan benda-benda potongan kertas, anak-anak mengekspresikan ide dan perasaan pribadi.

Dengan mereka memperlihatkan kreasi dan anak-anak yang lain, mereka belajar menghargai perbedaan. Untuk anak kecil, proses menciptakan adalah yang paling penting, bukan apa yang mereka buat. Karya seni menguntungkan semua aspek perkembangan anak. Saat anak menggambar, melukis, dan potongan kertas.

Mereka bereksperimen dengan warna, garis, bentuk dan ukuran. Mereka menggunakan cat, bahan-bahan dan kapur untuk membuat pilihan, mencoba ide, rencana, dan eksperimen. Mereka mempelajari tentang sebab-akibat saat mencampur warna, melalui mencoba dan gagal, mereka belajar menyumbangkan.

Melalui seni mereka, anak belajar mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan mereka terhadap dunia. Seni merupakan media yang membiarkan anak-anak merubah apa yang mereka tidak bisa ucapkan dengan kata-kata dengan terlihat dengan berbagai seni memberikan percaya diri dan kebanggaan. Seni juga memberikan kesempatan untuk pembentukan fisik.

Saat anak-anak merobek kertas untuk mengguntuing kertas, mereka menyempurnakan otot-otot kecil membuat garis dan bentuk-bentuk dengan spidol dan pinsil warna membantu anak-anak membentuk otot-otot motorik yang diperlukan untuk menulis.

Seni menyenangkan dan melegakan untuk anak-anak. Seni membuat mereka belajar banyak keahlian, mengekspresikan diri, menghargai keindahan, dan bersenangsenang semua pada saat yang sama.

Kompetensi pembelajaran dalam permainan seni adalah guru dapat memilih berbagai kompetensi untuk anak bekerja sambil menjelajah dan menggunakan materi-materi. Kompetensi pembelajaran dapat membantu guru merencanakan pengalaman seni yang sesuai.

Dengan menentukan Kompetensi, guru dapat lebih mudah menentukan media seni dan kegiatan yang akan membantu anak memperluas dan meningkatkan kemampuan mereka. Meskipun Kompetensi pilihan harus merefleksikan usia dan minat anak, Anda perlu mempertimbangkan Kompetensi-Kompetensi dibawah ini :

Kompetensi Untuk Perkembangan Sosial-Emosional

a)   Mengekspresikan perasaan (memilih warna terang untuk lukisan agar sesuai mood)
b)   Belajar menyalurkan frustasi dan amarah yang dapat diterima di lingkungan (memukul lilin)
c)   Melepas Individualitas (menggambar labu yang beda dengan warna dan desain orisinal)
d)   Merasakan kebanggaan (membuat mobil yang digantung di kelas)
e)   Berbagi dan bekerja sama dengan sesama (bekerja sama dalam membuat lukisan dinding)
f)    Kompetensi Untuk Perkembangan Kognitif
g)   Mengembangkan kreatifitas (memadukan materi dan tekstur)
h)   Membentuk pemahaman tentang sebab-akibat (observasi apa yang terjadi saat cat biru + kuning)
i)    Melabel bentuk dan benda (melukis lingkaran kuning dan menamakannya matahari)
j)    Memecahkan masalah
k)   Membentuk kemampuan merencanakan (menentukan warna apa yang didahulukan)

Kompetensi Untuk Perkembangan Fisik

a)   Membentuk otot kecil (mewarnai dengan spidol)
b)   Menyempurnakan koordinasi mata-tangan
c)   Belajar arah (melukis lingkaran dengan 1x sapuan kuas)


Semoga bermanfaat

sumber : portal kurikulum dan kurikulum RA serta sumber lainnya