Menulis itu mudah (rangkuman pelatihan KTI)

Menulis adalah aktivitas melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan
Mengapa menulis?...karena

  • menulis merupkan bagian dari dinamika kehidupan manusia
  • tulisan adalah bank memori
Tujuan menulis adalah
  1. Mengonformasikan pengetahuanatau pemahaman
  2. Bersifat membujuk
  3. Mendidik
  4. Menghibur....(dan menghasilkan tambahan kocek keluarga hehehe)
Bagaimana memulainya?...
  1. Luruskan niat
  2. Mulai dengan menulis bebas
  3. Gunakan mind mapping
  4. Mulai kebiasaan membaca
  5. Mulai latihan sesering mungkin
  6. Terus menulis
KTI adalah karya yang membahas suatu permasalahanditinjau dari sudut pandang teori ilmiah dimana masalah tersebut akan memberikan manfaat bagi kehidupan. Adapun ciri-ciri tulisan ilmiah adalah:
  1. logis
  2. sistematis
  3. objektif
  4. tuntas dan menyeluruh
  5. telaah secara lengkap
  6. jelas
  7. kebenaran teruji
  8. terbuka(bisa berubah jika ada pendapat baru)
Masih ngambang/bingung....
Mula-mula..
  • Cari ide atau tema yang mau kita tulis
  • kalo tema anak didik --> perkembangannya--> fisik,psikis,bahasa,dll, atau proses belajar
  • tema proses pembelajaran-->metode belajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, kurikulum, dll
  • tema tenaga pendidik-->kinerja, manajemen,adminisrasi,dll
Nah..sudah nga bingungkan...silahkan menulis dan bila ada kesulitan silahkan hubungi pembicaranya : nyimasgandasari@yahoo.com atau boleh ke wsurya74@gmail.com.
Sukses menyertai.
  •  

Manajemen Berbasis Sekolah di PAUD Bahrul Ulum


Berdasarkan latar belakang masalah di PAUD Bahrul Ulum, dapat diindentifikasikan masalah-masalah yang muncul sebagai berikut:
a.         Bagaimana terjalin hubungan yang harmonis dengan PAUD Nonformal yang banyak di lingkungan Kelurahan Mangga Dua Selatan?
b.        Bagaimana strategi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan RA Bahrul Ulum agar tetap diminati oleh orang tua sebagai alternatif pendidikan prasekolah?

1.    Strategi Pemecahan Masalah
a.      Deskripsi strategi pemecahan masalah yang dipilih
Sebagaimana telah diuraikan di atas mengenai latar belakang dan permasalahan yang mucul tersebut, maka diadakanlah rapat kepala sekolah dan guru dalam mencari solusi permasalahan tersebut serta sebagai pendapat praktisi pendidikan kami mengundang Pengawas RA/MI Kecamatan Sawah Besar. Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) menjadi  alternatif kami. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah suatu strategi pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang menekankan pada pengerahan dan pendayagunaan sumber internal sekolah dan lingkungannya secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas dan bermutu. Menurut Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

b.      Tahapan operasional pelaksanaannya
Setelah rapat sekolah maka kami mulai menginvetariskan langkah-langkah yang harus kami lakukan yaitu:
  1. Mengadakan rapat orangtua murid dengan membentuk komite sekolah yang menjadi mitra bagi sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan serta efektifitas hubungan sosial masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu promosi sekolah
  2. Penjelasan program sekolah agar terjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua murid, contoh:
Ø  Mengadakan kunjungan-kunjungan edukasi yang mempeluas pengetahuan anak seperti kunjungan ke pemadam kebakaran
Ø  Mengadakan puncak tema yang menampilkan hasil karya anak
  1. Membangun hubungan dengan Pihak Pemerintahan setempat yaitu Kelurahan dan Puskesmas Mangga Dua Selatan sebagai mitra sekolah dan sumber informasi kegiatan pendidikan anak usia dini di lingkungan setempat.
  2. Menjalin kerjasama dengan Kader PKK di lingkungan sekolah dengan membuka PAUD Nonformal yang belum ada yaitu Bina Keluarga Balita (BKB) yang khusus untuk usia 3-4 tahun.
  3. Meningkatkan kualitas guru RA dan kader PKK yang menjadi guru pendamping dengan mengikuti pelatihan, workshop dan seminar yang diadakan oleh lembaga-lembaga penyelenggara seperti IGRA Jakarta Pusat.
  4. Memotivasi guru untuk mengembangkan diri seperti menyelesaikan pendidikan sampai jenjang S-1 dan sekolah berusaha untuk mengajukan beasiswa kepada guru yang sedang kuliah
  5. Mendayagunakan guru yang mempunyai potensi untuk mengajar ektrakurikuler
  6. Membuat transparansi keuangan kepada pihak yayasan, guru, komite sekolah dan orangtua
  7. Membuat kurikulum muatan sekolah agar dapat menunjang kurikulum sekolah yang sudah ada, yaitu :
Ø  Mengadakan ektrakurikuler tanpa membayar yaitu: pengenalan bahasa inggris bagi anak usia dini, pengenalan seni lukis, pengenalan dasar computer dan seni angklung
Ø  Memberi kesempatan orangtua menjadi guru tamu di kelas



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah
Alasan kami memilih Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dikarenakan terjalinnya kerjasama internal dan eksternal sekolah sehingga dapat mendukung proses kegiatan belajar mengajar dan menghasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan serta keharmonisan dengan lembaga sekolah lainnya baik formal dan nonformal.
Peningkatan efisiensi sekolah antara lain dapat diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, peningkatan profesionalisme guru, serta terciptanya iklim sekolah yang nyaman dan kondusif.
E. Mulyasa dalam bukunya Manajemen Berbasis Kompetensi menuliskan
tujuan Manajemen Berbasis Sekolah yang lebih rinci yaitu:
1.    Meningkatkan peran serta warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan penidikan melalui pengambilan keputusan bersama
2.    Meningkatkan tanggungjawab sekolah terhadap orangtua, mayarakat, dan pemerintah yang akan dicapai;
3.    Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan;
4.    Memberikan pertanggungjawaban tentang mutu pendidikan kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dan masyarakat
5.    Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menyusun kurikulum muatan lokal, sedangkan kurikulum inti dan evaluasi berada pada kewenangan pusat dan pengembangannya disesuaikan dengan daerah dan sekolah masing-masing.
6.    Memberikan kesempatan untuk menjalin hubungan kerjasama kepada sekolah baik dengan perorangan, masyarakat, lembaga dan dunia usaha yang tidak mengikat.
Hal inilah yang menjadi pemicu kami agar berusaha dapat menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) sehingga tujuan kami untuk menjadikan RA. Bahrul Ulum menjadi  sekolah yang mutu pendidikan dan kompetensi lulusannya baik serta terjalin komunikasi yang harmonis dapat tercapai.

2.        Hasil atau Dampak Yang Dicapai Dari Strategi Yang Dipilih
  1. Kestabilan dalam penerimaan murid baru
  2. Keberhasilan lulusan murid RA kami yang mendapat peringkat 10 besar di Sekolah Dasar
  3. Keharmonisan komunikasi antar lembaga sekolah sehingga program sekolah kami menjadi acuan bagi sekolah lainnya
  4. Keharmonisan komunikasi dengan komite sekolah yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan guru seperti bantuan dana kesehatan bagi guru
  5. Guru termotivasi untuk lebih mengembangkan diri agar tercapai tujuan pelaksanaan pengajaran yang telah disepakati oleh sekolah dan komite sekolah
  6. Keberhasilan dalam pencapaian Standar Nasional Pendidikan yang dibuktikan dengan Akreditasi B.

3.        Kendala-kendala Yang Dihadapi Dalam Melaksanakan Strategi Yang Dipilih
a.       Tingkat pandangan sebagian masyarakat di lingkungan sekitar yang masih menggunakan khilafiah dalam pengajaran sehingga memerlukan penjelasan yang luas akan hal tersebut
b.      Dikarenakan tempat kegiatan kami menggunakan tanah wakaf masjid, maka terkadang terjadi kesalahpahaman ketika mengadakan suatu kegiatan
c.       Belum tercapainya standar honor bagi guru yang sesuai dengan upah minimum regional(UMR) atau minimal setengah dari UMR terkadang menjadi kendala bagi kebersamaan guru karena mereka mengajar di tempat lain atau mengadakan kegiatan lain untuk menunjang penghasilan keluarga
d.      Instrumen pengukuran keberhasilan program belum terinventarisir secara maksimal dikarenakan keterbatasan waktu tersebut, namun telah dapat dinikmati hasil penerapan manajemen berbasis sekolah dengan transparansi dan komunikasi yang baik diantara sekolah dan warga sekolah dan sampai sekarang kami terus melakukan program perbaikan berkelanjutan.

4.        Faktor-faktor Pendukung
a.       Pihak yayasan yang membantu motivasi terhadap sekolah dengan memberikan keleluasaan dalam pengelolaan keuangan sekolah di setiap kegiatan
b.      Pihak Pengawas RA/MI yang terus menyumbangkan saran dalam pengembangan diri sekolah di setiap kegiatan rapat gugus IGRA
c.       Orang tua alumni anak RA Bahrul Ulum yang membantu penjelasan bila ada ketidaktahuan masyarakat tentang system pengajaran di RA Bahrul Ulum
d.      Komite sekolah yang mendukung kegiatan sekolah dan bersedia duduk bersama dalam mencari jalan keluar bila terjadi permasalahan dalam kegiatan dan kenyamanan belajar di sekolah
e.       Kerjasama antar guru yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik
f.       Kader PKK yang turut andil dalam penjelasan kegiatan belajar mengajar di PAUD dan RA Bahrul Ulum kepada masyarakat di lingkungan sekitar
g.      Masyarakat sekitar yang peduli pendidikan di lingkungan sekitar turut membantu pelaksanaan kegiatan di luar sekolah dalam upaya peningkatan mutu sekolah

5.        Alternatif Pengembangan
Sesuai program sekolah kami, yaitu:
a)      Jangka Pendek.
v  Mengadakan perbaikan sarana dan prasarana belajar
v  Mengadakan perbaikan administrasi dan manajemen sekolah.
v  Menyebarluaskan informasi pendidikan PAUD, RA Bahrul Ulum pada masyarakat sekitar.
b)      Jangka Menengah.
v  Memberikan dana kesejahteraan bagi para pengajar dan insentif prestasi bagi guru yang unggul dalam mengajar.
v  Menyusun anggaran untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan para guru.
v  Menyelenggarakan usaha-usaha yang dapat meningkatkan pendapatan sekolah yang tidak bertentangan dengan peraturan sekolah
c)      Jangka Panjang
v  Bersama-sama yayasan bahrul ulum menyusun anggaran dan membuat permohonan bantuan untuk memiliki gedung/sarana pendidikan sendiri kepada pihak pemerintah, pribadi maupun pihak swasta.(karena sampai saat ini kegiatan PAUD dan RA masih menumpang di masjid al-mubarokah)



BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL

1.    Rumusan Simpulan
Pada dasarnya Manajemen Berbasis Sekolah menggarisbawahi dan menekankan pentingnya peran masing masing warga sekolah. Kepala sekolah hanya dapat meraih kesuksesan dengan bekerja sama dengan warga sekolah lainnya, kepemimpinan kependidikan kemudian ditujukan kepada peningkatan produktifitas, aktivitas dan usaha-usaha yang dilakukan oleh warga sekolah.
Manajemen Berbasis Sekolah yang menitik bertkan pada pemberdayaan warga sekolah yang bertujuan meningkatkan partisipasi yang luas dari warga sekola dalam semua kegiatan-kegiatan sekolah.
Keikutsertaan dan partisipasi yang luas dari warga sekolah ini adalah sangat penting dalam membentuk pandangan-pandangan bersama yang pada akhirnya dapat membentuk rasa memiliki bersama diatara warga sekolah dan hal ini adalah mutlak bagi tercapainya proses perubahan yang efektif dan usaha-usaha pengembangan yang dilakukan oleh sekolah.
Secara umum dapat diyakini bahwa warga sekolah akan menunjukkan tingkat dukungan yang lebih besar pada setiap keputusan yang diambil dimana mereka diikutsertakan secara lansung dan bermakna. Keikutsertaan ini menghilangkan rasa diasingkan, memupuk rasa saling percaya, meningkatkan motivasi dan menciptakan komitmen terhadap semua keputusan yang diambil bersama.
Dan pada kenyataannya kepala sekolah tidak memiliki monopoli dalam kepemimpinannya, ada pihak-pihak luar seperti orang tua, komite sekolah, pengawas dan kelompok masyarakat juga memainkan perannya dalam lingkup pendidikan sehingga kerjasama dan komunikasi yang baik dapat memperbaiki mutu sekolah tersebut.

2.    Rumusan Rekomendasi Operasional untuk Implementasi Temuan
Berdasarkan pengalaman di sekolah tersebut, maka hendaknya setiap kepala sekolah memiliki fleksibelitas dalam hubungan sosial di masyarakat karena hal ini akan memudahkan dalam menghadapi situasi dan kepentingan yang berbeda dan membutuhkan penanganan dan perlakuan yang tentu juga berbeda.
Dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan kepala sekolah tidak arogan dalam mengambil setiap keputusan tetapi mau mendengarkan pendapat dari setiap warga sekolah baik orangtua, komite sekolah, guru dan komponen lainnya. Untuk mendukung efektifnya penerapan manajemen berbasis sekolah tersebut sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Mendeskripsikan lulusan dengan indikator yang jelas yang diikuti dengan indentifikasi kebutuhan kurikulum, kompetensi pendidik, sarana, biaya, dan sistem pengelolaan.
  • Meningkatkan keberdayaan sekolah dalam mengembangkan sistem informasi sebagai bahan pengambilan keputusan.
  • Menyediakan  infomasi yang perlu dipahami oleh seluruh anggota komunitas agar tiap orang dipastikan dapat melaksanakan tugasnya secara optimal.
  • Meningkatkan kegiatan sosialisasi program sehingga semua pihak dipastikan mendapatkan informasi secara transparan dan akuntabel.
  • Mempersiapkan instrumen pengukuran pencapaian kinerja baik terhadap proses maupun hasil dengan indikator yang transparan sehingga semua pihak memahami betul ukuran keberhasilan yang disepakati.
  • Melaksanakan pertemuan mengembangakan  rencana kegiatan, evaluasi kegiatan, dan evaluasi hasil.
  • Menyusun pertanggung jawaban program secara transparan dan akuntabel.
  • Melakukan perbaikan berkelanjutan.

Ketika anak terlambat bicara

Siapa yang tak miris hati seorang ibu bila melihat anaknya tak dapat bicara?...
Pada saat anak seusianya berceloteh dan bernyanyi dengan riang, tetapi ia hanya bisa menatap dan seolah ingin sekali meniru gaya temannya namun ia tak mampu melakukannya.
Namun sebagai makhluk Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, janganlah berputus asa karena setiap ada kemauan untuk berubah pastilah Allah menunjukkan jalan-Nya.
Sebenarnya ada beberapa tahapan anak mulai mengenali komunikasi, berikut tahapan yang dapat saya sampaikan berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca:

  1. Tahapan ketika dalam kandungan: tahapan dalam kandungan seorang ibu adalah tahapan awal anak mulai dapat berkomunikasi dengan sang bunda, karena hal itulah diharapkan bunda memberikan awal komunikasi yang baik pada sang bayi dengan mendengarkan pembicaraan yang baik, bacaaan al-qur'an/hadist, membacakan buku cerita/buku pengetahuan, mendengarkan musik yang meransang perkembangan otak dan motoriknya
  2. Tahapan ketika keluar dari rahim ibu: tahapan ini adalah saat bayi menangis ketika ibu melahirkannya dan biasanya bidan akan memberikan tepukan sayang bila ia belum menangis, disaat inilah bisa dideteksi apa yang terlambat, kemampuan motorikkah yang membuat anak terlambat bicara atau kemampuan yang lain 
  3. Tahapan 0-12 bulan: bayi akan mengulang suara yang sama, tersenyum bila diajak berbicara, mengenali suara orang yang disekitarnya, merespon bila diajak berbicara, mulai berbicara dengan tujuan, ekspresif, mengerti perintah sederhana 
Bila ternyata anak mengalami fase berbicara yang tidak sesuai dengan tahapan seusianya, orangtua harus segera bertindak, yang pertama dilakukan adalah mengetahui penyebab dari keterlambatan tersebut. Hal ini berguna untuk mengetahui penanganan dan terapi yang tepat untuk diterapkan kepada anak.
Sedangkan dari segi agama saya menyarankan kepada orangtua untuk lebih sering melafazkan asmaul husna Al-Bayyan  yaitu kemampuan berbicara dengan jelas, kemampuan memahami suatu percakapan dan kemampuan berkomunikasi.Tengadahkanlah tangan kita tinggi untuk berdoa bermohon pada Allah swt : "Ya Allah kami bertaubat kepada Mu atas segala dosa kami, anak kami belum bisa berbicara. Engkaulah yang mengajari manusia berbicara, karunikanlah Al-Bayyan kepada anak kami. Kami mohon pada Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Kabulkanlah do'a kami.amiin".

Nah..bunda dan ayah, jangan berputus asa yah...semoga ini dapat bermanfaat.

    Metodologi perkembangan motorik anak


    METODOLOGI PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK

    PENGARUH PERKEMBANGAN MOTORIK TERHADAP PERKEMBANGAN INDIVIDU MENURUT E.HURLOCK (1996)
    1.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang, seperti bermain boneka, bermain bola, dll
    2.    Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi yang tidak mampu menjadi kondisi yang independent.
    3.    Melalui perkembangan motorik, anak dapat meyesuaikan diri dengan lingkungannya
    4.    Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayanya
    5.    Perkembangan keterampilan motorik  sangat penting bagi perkembangan self concept atau kepercayaan dirinya

    Tahap Perkembangan Motorik Anak

    Usia 0 – 1 tahun

    • 0-3 bulan
    • Pemberian ransangan dapat membantu perkembangan anak
    • Menatap orang yang disekitarnya
    • Tersenyum
    • Mengeluarkan suara
    • Menggerakkan bagian tubuh
    • 4 -6 bulan
    • Berbalik dn dapat telentang kembali
    • Mempertahankan kepala agar dalam posisi tegak
    • Meraih benda yang ada disekitarnya
    • Meniru bunyi
    • Mengenggam mainan
    • MEmperhatikan gambar yang menarik baginya
    • Merangkak
    • 3-4 bulan
    • Mengangkat kepala ketika tengkurap
    • Mengoceh spontan
    • Pendengarkan ransangan bunyi-bunyian dan berikan mainan yang berwarna dan besar
    • 6-12 bulan
    • Belajar memegang, duduk
    • Pelatihan bahasa
    • Merambat
    • Bemain tepuk tangan
    • Mengenal anggota keluar
    • Berdiri, berjalan
    • Memegang benda kecil
    • Menunjuk apa yang diinginkan

    Usia 1-2 tahun
    Motorik Kasar
    Motorik Halus
    • merangkak
    • berdiri dan berjalan beberapa langkah
    • berjalan cepat
    • cepat-cepat duduk agar tidak jatuh
    • merangkak di tangga
    • berdiri di kursi tanpa pegangan
    • menarik dan mendorong benda-benda berat
    • melempar bola
    • mengambil benda kecil dengan ibu jari atau telunjuk
    • membuka 2-3 halaman buku secara bersamaan
    • menyusun menara dari balok
    • memindahkan air dari gelas ke gelas lain
    • belajar memakai kaus kaki sendiri
    • menyalakan TV dan bermain remote
    • belajar mengupas pisang


    Usia 2-3 tahun
    Motorik Kasar
    Motorik Halus
    • melompat-lompat
    • berjalan mundur dan jinjit
    • menendang bola
    • memanjat meja atau tempat tidur
    • naik tangga dan lompat di anak tangga terakhir
    • berdiri dengan 1 kaki
    • mencoret-coret dengan 1 tangan
    • menggambar garis tak beraturan
    • memegang pensil
    • belajar menggunting
    • mengancingkan baju
    • memakai baju sendiri


    Usia
    Tahap Perkembangan
    Tiga tahun
    ·           Berdiri di atas salah satu kaki selama 5-10 detik
    ·           Berdiri di atas kaki lainnya selama beberapa saat
    ·           Menaiki dan menuruni tangga, dengan berganti-ganti dan
    ·           berpeganngan pada peganngan tangga
    ·           Berlari berputar-putar tanpa kendala
    ·           Melompat ke depan dengan dua kaki 4 kali
    ·           Melompat dengan salah satu kaki 5 kali
    ·           Melompat dengan sebelah kaki lainnya dalam satu lompatan
    ·           Menendang bola ke belakang dan ke depan dengan
    ·           mengayunkan kaki
    ·           Menangkap bola yang melambung dengan mendekapnya ke
    ·           dada
    ·           Mendorong, menarik dan mengendarai mainan beroda atau
    ·           sepeda roda tiga
    ·           Mempergunakan papan luncur tanpa bantuan
    ·           Membangun menara yang terdiri dari 9 atau 10 kotak
    ·           Menjiplak garis vertical, horizontal dan silang
    ·           Menjiplak lingkaran
    ·           Mempergunakan kedua tangan untuk mengerjakan tugas.
    ·           Memegang kertas dengan satu tangan dan memepergunakan gunting untuk memotong selembar kertas berukuran 5 incipersegi menjadi dua bagian.

    Empat tahun
    ·           Berdiri di atas satu kaki selama 10 detik
    ·           Berjalan maju dalam satu garis lurus dengan tumit dan ibu jari
    ·           sejauh 6 kaki
    ·           Berjalan mundur dengan ibu jari ke tumit
    ·           Lomba lari
    ·           Melompat ke depan 10 kali
    ·           Melompat kebelakang sekali
    ·           Bersalto/ berguling ke depan
    ·           Menendang secara terkoordinasi ke belakang dank e depan
    ·           dengan kaki terayun dan tangan mengayun kea rah berlawanan secara bersamaan.
    ·           Dengan dua tangan menangkap bola yang dilemparkan dari jarak 3 kaki
    ·           Melempar bola kecil dengan kedua tangan ke pada seseorang
    ·           yang berjarak 4-6 kaki darinya
    ·           Membangun menara setinggi 11 kotak
    ·           Menggambar sesuatu yang berarti bagi anak tersebut.




    ·           Dapat dikenali orang lain
    ·           Mempergunakan gerakan-gerakan jemari selama permainan jari
    ·           Menjiplak gambar kotak
    ·           Menulis beberapa huruf

    Lima tahun
    ·           Berdiri di atas kaki yang lainnya selama 10 detik
    ·           Berjalan di atas besi keseimbangan ke depan, ke belakang dan ke samping
    ·           Melompat ke belakang dengan dua kali berturut-turut
    ·           Melompat dua meter dengan salah satu kaki
      ·           Mengambil satu atau dua langkah yang teratur sebelum menendang bola
    ·           Menangkap bola tennis dengan kedua tangan
    ·           Melempar bola dengan memutar badan dan melangkah kedepan
    ·           Mengayun tanpa bantuan
    ·           Menangkap dengan mantap
    ·           Menulis nama depan
    ·           Membangun menara setinggi 12 kotak
    ·           Mewarnai dengan garis-garis
    ·           Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan 2 jari
    ·           Menggambar orang beserta rambut dan hidung
    ·           Menjiplak persegi panjang dan segi tiga
    ·           Memotong bentuk-bentuk sederhana.

    Diadaptasi dari CRI (1997)dan diedit dari parentingislami

    Perkembangan motorik anak bisa di pantau dengan melakukan suatu tes. Tes yang umum dilakukan untuk memantau perkembangan motorik adalah tes Denver. Tes ini membagi perkembangan anak jadi empat, yaitu perkembangan personal sosial, perkembangan bahasa, serta perkembangan motorik kasar dan motorik halus adaptif. Perkembangan bayi akan diamati setiap 1 bulan sekali. Sedangkan balita, atau tepatnya setelah anak menginjak usia 2 tahun ke atas, cukup 3 bulan sekali. Tes Denver merupakan checklist untuk mempermudah pemantauan akan perkembangan anak, apakah anak sesuai dengan perkembangan usianya saat itu atau tidak.


    BEBERAPA PENDAPAT AHLI TENTANG PERKEMBANGAN FISIK/MOTORIK :
    1.    Kuhlen dan Thompson (dalam Yusuf, 2002), mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi 4 (empat) aspek, yaitu (1) sistem syaraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi; (2) otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3) kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru; dan (4) struktur fisik atau tubuh yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi
    2.    Menurut Suyanto (2005), perkembangan fisik ditujukan agar badan anak tumbuh dengan baik sehingga sehat dan kuat jasmaninya. Perkembangan fisik juga ditujukan untuk mengembangkan 5 (lima) aspek yang meliputi (1) kekuatan (strength); (2) ketahanan (endurance); (3) kecepatan (speed); (4) kecekatan (agility); dan (5) keseimbangan (balance)
    3.    Hurlock (2000) mengatakan bahwa perkembangan motorik adalah perkembangan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Jadi, perkembangan motorik merupakan kegiatan yang terkoordinir

    4.    Thelen (dalam Vasta, Haith & Miller, 1999), mengemukakan bahwa perkembangan keterampilan motorik anak merupakan hasil dari faktor bawaan (genetik) dan lingkungan. Thelen menyatakan bahwa penguasaan keterampilan motorik sangat ditentukan oleh berbagai macam faktor, yaitu faktor emosi, persepsi, perhatian, motivasi, postur dan anatomi tubuh


    FAKTOR PENGHAMBAT PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR :
    Perkembangan motorik yang  lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuscular. Seperti :
    a.   Anak penderita celebral palsy dapat mengalami keterbatasan motorik akibat spastisitas, athetois, ataksia atau hipotonia
    b.   Anak dengan kelainan sumsum tulang belakang dapat mengalami keterlambatan motorik
    c.    Faktor lingkungan serta kepribadian anak juda dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan motorik
    d.   Kelahiran premature
    e.   Bentuk kaki anak yang huruf


    KESIMPULAN DAN SARAN

    Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual anak. Faktor gizi, pola pengasuhan anak, dan lingkungan ikut berperan dalam perkembangan motorik anak. Perkembangan motorik anak berlangsung secara bertahap tapi memiliki alur kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap anak.
    Pada umumnya anak usia 3 sampai 4 tahun memiliki kekuatan fisik yang mulai berkembang, tapi rentang konsentrasinya pendek, cenderung berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Sedangkan pada usia 5 tahun Secara fisik, pada usia ini fisik anak sangat lentur
    dan tertarik pada senam dan olah raga yang teratur. Mereka mengembangkan kemampuan motorik yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan seperti memakai baju, menggunting, menggambar dan menulis lebih mudah dilakukan
    Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menstimulasi perkembangan motorik anak adalah sebagai berikut

    1.     Memberikan kesempatan belajar anak untuk mempelajari kemampuan motoriknya, agar ia tak mengalami kelambatan perkembangan.
    2.    Memberikan kesempatan mencoba seluas-luasnya agar ia bisa menguasai kemampuan motoriknya.
    3.    Memberikan contoh yang baik, karena mempelajari dan mengembangkan kemampuan motoriknya lewat cara meniru, si kecil perlumendapat contoh (model) yang tepat dan baik.
    4.    Memberikan bimbingan karena meniru tanpa bimbingan tak akan mendapatkan hasil optimal. Ini penting agar ia mengenali kesalahannya.
    5.    Penggunaan KMS (Kartu Menuju Sehat) yang bisa memantau perkembangan motorik anak secara praktis, untuk melihat apakah anak berkembang sesuai dengan tahapannya atau tidak.