Model Pembelajaran Area Balok dan Area Seni

Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di University of Tnnessee, Knoxville yang dilandasi oleh teori Piaget dengan pendekatan konstruktivis.

Model pembelajaran bermain kreatif dengan pendekatan pembelajaran konstruktivis merupakan sebuah konsep pembelajaran dengan dasar teori perkembangan anak dimana anak akan membangun pengetahuannya sendiri. Pendekatan konstruktivis memberikan pendidikan yang menyeluruh pada anak usia dini.

Konsep model pembelajaran bermain kreatif tersebut terdiri dari praktek pembelajaran untuk anak, konten area untuk anak, seperangkat asesmen untuk mengukur tingkah laku dan kemajuan anak, dan model pelatihan untuk membantu orang dewasa dalam mendukung perkembangan anak.

Pembelajaran disusun berdasarkan kepercayaan bahwa anak belajar dengan baik melalui pembelajaran yang aktif (active learning), pengalaman langsung, interaksi dengan orang dewasa, kejadian dan ide-ide.

Ruang-ruang kelas ditata sedemikian rupa dengan sangat selektif, berhati-hati agar pembelajaran aktif pada anak dapat terjadi. Area dibagi berdasarkan area minat anak yang diatur dalam permainan yang spesifik, seperti area balok, area perpustakaan, area rumah tangga, area memasak, area pasir dan air, area seni.




1.   Area Balok

Balok adalah peralatan yang standar untuk kelas anak-anak yang pertama dan itu penting untuk mengimplementasikan Kurikulum Kreatif. Balok-balok kosong cocok untuk anak-anak yang menyukai permainan dramatik. Dalam waktu yang singkat balok-balok yang besar ini menjadi sebuah boneka, rumah, sebuah bis, atau alat pemadam kebakaran.

Unit balok-balok ini menyediakan sebuah kekayaaan dalam belajar aktivitas ini yang mengizinkan anak-anak untuk mendapatkan konsep-konsep dalam matematika, pengetahuan alam, geometri, ilmu sosial, dan banyak lagi.

Balok kayu adalah kebutuhan yang alami untuk anak kecil karena balok-balok itu halus, keras dan simetris. Anak-anak suka untuk mengembangkan karakter fisik balok-balok itu dengan menyentuhnya, mengusapnya, dan memukul balok-balok itu bersama untuk mendengarkan suara balok-balok itu.

Balok kayu adalah permaianan material yang mengajak anak-anak untuk menciptakan sesuatu yang mau. Di sini tidak ada cara yang benar atau salah untuk meciptakan sesuatu dengan balok-balok itu-anak-anak dapat membuatnya semau mereka.

Kadang-kadang anak-anak memulai dengan sebuah idea apa yang mereka ingin buat, dan juga desain tiga dimensi ini berkembang sesuai bagaimana anak-anak menempatkan balok bersama secara acak atau dengan pola.

Seperti seni lainnya, kreasi anak-anak menghasilkan dengan balok-balok tersebut sering mengingatkan mereka pada apa yang pernah mereka lihat, jadi mereka mulai untuk menamakan apa yang mereka ciptakan: rumah, jala, atau pesawat roket.

Membangun balok penting untuk perkembangan kognitif (kemampuan untukmemandang sesuatu). Seperti pengalaman anak-anak dengan dunia sekelilingnya,mereka membentuk gambaran di pikiran mereka dari apa yang mereka lihat.

Bermain dengan balok memberi mereka sebuah kesempatan unutk menciptakan kembali gambar-gamabar ini dalam bentuk nyata. Kemampuan menciptakan ini yang mewakilkan pengalaman-pengalaman mereka adalah sesuatu kemampuanpenting dimulai dari pikiran yang abstrak.

Terlebih lagi, karena balok-balokdidesain dalam unit matematika, anak-anak bermain dengan itu mendapat pengertian yang nyata dari konsep yang penting untuk berpikir logis. Mereka belajar tentang ukuran, bentuk, jumlah, jenis, area, panjang, dan berat sebagai apa yang mereka pilih, ciptakan, dan membersihkan balok-balok.

Balok-balok permainan yang bernilai untuk perkembangan fisikal. Anak-anak menggunakan otot-otot besar mereka untuk membawa balok-balok dari satu tempat yang satu ke tempat yang lain. Mereka menempatkan balok-balok bersama dengan cermat untuk membentuk sebuah jembatan atau desain yang rumit, mereka menyempurnakan otot-otot kecil di tangan mereka, yang penting untuk menulis.

Kompetensi pembelajaran dalam permainan balok adalah anak-anak dapat merealisasikan banyak keuntungan dari permainan balok saat guru mereka menetapakan Kompetensi yang realistik dan cocok untuk perkembangan mereka.

Urutan di bawah adalah contoh Kompetensi yang dapat anda tempatkan sebagai anak-anak yang bermain dengan balok-balok.

Kompetensi Untuk Perkembangan Sosial-Emosi:

a.   Bekerja dengan bebas dan dalam sebuah kelompok (memutuskan kapan, bagaimana, dan dengan siapa mereka bermain.)
b.   Menunjukkan kebutuhan, konsentrasi, dan ketakutan dalam jalan sosial yang dapat diterima (menciptakan rumah sakit atau gua dengan monster dan bermain membuat kepercayaan)
c.   Berbagi dan bekerjasama dengan yang lain (menjual barang dan tiang dan merencanakan proyek pembangunan bersama)
d.   Mendemonstrasikan kebanggaan dalam menyelesaikan dan sebuah konsep diri sendiri yang positif (membagikan bangunan mereka dengan berbicara mengenai apa yang mereka ciptakan)

Kompetensi dari perkembangan kognitif:

a.   Mengembangkan sebuah pengertian tentang konsep, berat, dan area (membawa balok dan menggunakan balok-balok dalam konstruksi)
b.   Mengklasifikasikan dan menyusun objek dengan ukuran, bentuk, dan fungsi (menempatkan balok-balok dalam ukuran yang sama)
c.   Membuat kegunaan prinsip-prinsip fisikal (mengembangkan berat, stabilitas, persamaan, keseimbangan, dan kekuatan untuk mengungkit )
d.   Memprediksikan penyebab dan efek persahabatan (melihat seberapa tinggi mereka dapat membangun mereka sebelum balok-balok itu jatuh)
e.   Menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan konstruksi (membuat jembatan atau langkah-langkah membuat rumah)
f.    Mengorganisasikan dalam sebuah baris (membuat balok dari rendah ke tinggi dan menghitung dengan benar)
g.   Menggunakan tambahan, dasar dan pecahan (menetapkan berapa banyak balok yang diperlukan untuk mengisi jarak yang kosong)
h.   Mengembangkan kemampuan membaca dan menulis (membuat tanda untuk bangunan)
                                      
Kompetensi dari Perkembangan Fisikal:

a.   Menggunakan kemampuan otot kecil dan besar (memegang, mengangkat, menempatkan dan menyeimbangkan balok-balok)
b.   Mengembangkan koordinasi antara mata dan tangan (menempatkan balok pada pola yang benar)
c.   Mengontrol tempat objek-objek (bawah, atas, di atas, di bawah, di atas, dari, dan di sebelah saat berkontraksi dengan balok-balok)

2.   Area Seni

Sebagian besar anak kecil biasanya menyenangi seni. Mereka menyukai proses penggunaan cat ke kertas, menempel-nempelkan, memukul-mukul lilin.

Bekerja dengan material seni menawarkan anak-anak kesempatan untuk bereksperimen dengan warna, bentuk, rancangan, dan tektur. Menggunakan material seni seperti lukisan, lilin, spidol, krayon, kanji dari tepung jagung, dan susunan benda-benda potongan kertas, anak-anak mengekspresikan ide dan perasaan pribadi.

Dengan mereka memperlihatkan kreasi dan anak-anak yang lain, mereka belajar menghargai perbedaan. Untuk anak kecil, proses menciptakan adalah yang paling penting, bukan apa yang mereka buat. Karya seni menguntungkan semua aspek perkembangan anak. Saat anak menggambar, melukis, dan potongan kertas.

Mereka bereksperimen dengan warna, garis, bentuk dan ukuran. Mereka menggunakan cat, bahan-bahan dan kapur untuk membuat pilihan, mencoba ide, rencana, dan eksperimen. Mereka mempelajari tentang sebab-akibat saat mencampur warna, melalui mencoba dan gagal, mereka belajar menyumbangkan.

Melalui seni mereka, anak belajar mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan mereka terhadap dunia. Seni merupakan media yang membiarkan anak-anak merubah apa yang mereka tidak bisa ucapkan dengan kata-kata dengan terlihat dengan berbagai seni memberikan percaya diri dan kebanggaan. Seni juga memberikan kesempatan untuk pembentukan fisik.

Saat anak-anak merobek kertas untuk mengguntuing kertas, mereka menyempurnakan otot-otot kecil membuat garis dan bentuk-bentuk dengan spidol dan pinsil warna membantu anak-anak membentuk otot-otot motorik yang diperlukan untuk menulis.

Seni menyenangkan dan melegakan untuk anak-anak. Seni membuat mereka belajar banyak keahlian, mengekspresikan diri, menghargai keindahan, dan bersenangsenang semua pada saat yang sama.

Kompetensi pembelajaran dalam permainan seni adalah guru dapat memilih berbagai kompetensi untuk anak bekerja sambil menjelajah dan menggunakan materi-materi. Kompetensi pembelajaran dapat membantu guru merencanakan pengalaman seni yang sesuai.

Dengan menentukan Kompetensi, guru dapat lebih mudah menentukan media seni dan kegiatan yang akan membantu anak memperluas dan meningkatkan kemampuan mereka. Meskipun Kompetensi pilihan harus merefleksikan usia dan minat anak, Anda perlu mempertimbangkan Kompetensi-Kompetensi dibawah ini :

Kompetensi Untuk Perkembangan Sosial-Emosional

a)   Mengekspresikan perasaan (memilih warna terang untuk lukisan agar sesuai mood)
b)   Belajar menyalurkan frustasi dan amarah yang dapat diterima di lingkungan (memukul lilin)
c)   Melepas Individualitas (menggambar labu yang beda dengan warna dan desain orisinal)
d)   Merasakan kebanggaan (membuat mobil yang digantung di kelas)
e)   Berbagi dan bekerja sama dengan sesama (bekerja sama dalam membuat lukisan dinding)
f)    Kompetensi Untuk Perkembangan Kognitif
g)   Mengembangkan kreatifitas (memadukan materi dan tekstur)
h)   Membentuk pemahaman tentang sebab-akibat (observasi apa yang terjadi saat cat biru + kuning)
i)    Melabel bentuk dan benda (melukis lingkaran kuning dan menamakannya matahari)
j)    Memecahkan masalah
k)   Membentuk kemampuan merencanakan (menentukan warna apa yang didahulukan)

Kompetensi Untuk Perkembangan Fisik

a)   Membentuk otot kecil (mewarnai dengan spidol)
b)   Menyempurnakan koordinasi mata-tangan
c)   Belajar arah (melukis lingkaran dengan 1x sapuan kuas)


Semoga bermanfaat

sumber : portal kurikulum dan kurikulum RA serta sumber lainnya

Tehnik Penilaian Keterampilan PAUD




Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai ke­mampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu di berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kom­ petensi. Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, an­tara lain penilaian praktek, penilaian produk, penilaian proyek, dan penilaian portofolio. Teknik penilaian keterampilan yang digunakan dipilih sesuai de­ngan karakteristik KD pada KI-4.

Berikut ini adalah uraian singkat mengenai teknik-teknik penilaian keterampilan tersebut.

a. Penilaian Praktek


Penilaian praktek adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas sesuai dengan tuntutan kompetensi. Dengan demi­kian, aspek yang dinilai dalam penilaian praktek adalah kualitas proses menger­jakan/melakukan suatu tugas.

Penilaian praktek bertujuan untuk menilai kemampuan peserta didik mende­monstrasikan keterampilannya dalam melakukan suatu kegiatan. Penilaian praktek lebih otentik dari pada penilaian paper and pencil karena bentuk-ben­tuk tugasnya lebih mencerminkan kemampuan yang diperlukan dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Contoh penilaian praktek adalah membaca karya sastra, membacakan pidato (reading aloud dalam mata pelajaran bahasa Inggris), menggunakan peralatan laboratorium sesuai keperluan, memainkan alat musik, bermain bola, bermain tenis, berenang, menyanyi, menari, dan sebagainya.

b. Penilaian Produk


Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan peserta didik dalam mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki ke dalam wujud produk dalam waktu tertentu sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan baik dari segi pro­ses maupun hasil akhir. Penilaian produk dilakukan terhadap kualitas suatu produk yang dihasilkan.

Penilaian produk bertujuan untuk
  • menilai keterampilan peserta didik da­lam membuat produk tertentu sehubungan dengan pencapaian tujuan pem­belajaran di kelas;
  • menilai penguasaan keterampilan sebagai syarat untuk mempelajari keterampilan berikutnya; dan menilai kemampuan peserta didik dalam bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam mendesain dan menunjukkan inovasi dan kreasi.

Contoh penilaian produk adalah membuat kerajinan, membuat karya sastra, membuat laporan percobaan, menciptakan tarian, membuat lukisan, meng­aransemen musik, membuat naskah drama, dan sebagainya.

c. Penilaian Proyek


Penilaian proyek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan pe­serta didik dalam mempraktekkan pengetahuannya melalui penyelesaian su­atu proyek­ dalam periode / waktu tertentu. Penilaian proyek dapat dilakukan untuk menilai satu atau beberapa KD dalam satu atau beberapa mata pelajaran. Instrumen tersebut berupa rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pe­ngumpulan data, pengorganisasian data, pengolahan dan penyajian data, serta pelaporan.

Penilaian proyek bertujuan untuk mengembangkan dan memonitor keteram­pilan peserta didik dalam merencanakan, menyelidiki dan menganalisis pro­jek. Dalam konteks ini peserta didik dapat menunjukkan pengalaman dan pe­ngetahuan mereka tentang suatu topik, memformulasikan pertanyaan dan menyelidiki topik tersebut melalui bacaan, wisata dan wawancara. Kegiatan mereka kemudian dapat digunakan untuk menilai kemampuannya dalam be­kerja sendiri atau kelompok. Produk suatu proyek dapat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam mengomunikasikan temuan-temuan mereka dengan bentuk yang tepat, misalnya presentasi hasil melalui visua dis­play atau laporan tertulis.

Contoh penilaian proyek adalah melakukan investigasi terhadap jenis keane­karagaman hayati Indonesia, membuat makanan dan minuman dari buah segar, membuat gerak tari berdasarkan level dan pola latih sesuai iringan, mencipta rangkaian gerak senam berirama, dan sebagainya.

d. Penilaian Portofolio


Penilaian portofolio merupakan teknik lain untuk melakukan penilaian terha­ dap aspek keterampilan. Tujuan utama dilakukannya portofolio adalah untuk menentukan hasil karya dan proses bagaimana hasil karya tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti yang dapat menunjukkan pencapaian belajar peserta didik, yaitu mencapai kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil pekerjaan peserta didik.

Semoga bermanfaat.

Wiwik Suryandarini
Selanjutnya penjelasan mengenai PAUD dapat dibaca di buku "Be An Inspiring Teacher"
Info pemesanan : 081290744451 / 081283893081

Prinsip Memilih, Menentukan Tema dan Subtema PAUD Kurikulum 2013

Dalam memilih tema dan subtema PAUD, terdapat beberapa prinsip memilih tema PAUD yaitu sebagai berikut :

1. PRINSIP KEDEKATAN
Kedekatan artinya tema hedaknya dipilih mulai dari tema yang terdekat dengan kehidupan anak. Dekat dimaksud dapat dekat secara fisik dapat juga dekat secara emosi atau minat anak.
Contoh tema yang terdekat dengan peserta didik misalnya diri sendiri. Di dalam tema diri sendiri dapat dikembangkan menjadi sub tema aku dengan topik bahasan antara lain :
  • Mengidentifikasi anggota tubuh 
  • Fungsi masing-masing anggota tubuh 
  • Siapa saja yang boleh menyentuh anggota tubuh tertentu dan alasan diperbolehkannya 
  • Cara melindungi anggota tubuh dari hal-hal yang membahayakan
Setelah tema diri sendiri pendidik dapat memilih tema lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Masing-masing lembaga tentu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Misalnya bagi lembaga PAUD  yang  lingkungannya  dekat  dengan  pantai,  maka tema lingkunganku dengan sub tema “pantaiku yang indah”  dapat menjadi pilihan tema sesuai dengan  prinsip kedekatan.
Bagi   lembaga PAUD   yang   lingkungannya   dekat   dengan   perkebunan,   tema lingkunganku dengan sub tema “Kebun” dengan topik bahasan “kebun mangga”, “kebun kelapa” atau lainnya. “Kebun” dapat menjadi pilihan tema sesuai dengan  prinsip kedekatan.
2. PRINSIP KESEDERHANAAN
Kesederhanaan artinya tema yang dipilih yang sudah dikenal anak agar anak dapat menggali lebih banyak pengalamannya. Jadi pemilihan tema tidak perlu yang muluk-muluk.
Contoh : Berdasarkan  prinsip kesederhanaan kita dapat memilih tema “lingkungan” dengan sub tema “Kebun Mangga” melalui  topik bahasan yang sederhana kepada peserta didik. Misalnya :
  • Macam-macambuah mangga
  • Cara memelihara kebun mangga
  • Peralatan yang digunakan di kebun mangga
  • Manfaat buah mangga bagi kesehatan 
  • Cara mengkonsumsi buah mangga

3. PRINSIP KEMENARIKAN
Kemenarikan artinya tema yang dipilih harus mampu menarik minat belajar anak. tema menarik tidak selalu tema yang aneh tetapi tema sekitar anak juga bisa menarik  jika guru dapat memilih aktifitas yang sesuai dengan perkembangan anak.
Contoh : tema lingkunganku dengan sub tema “Kebun Mangga” sangat menarik bagi anak dengan aktifitas antara lain :
  • Menghitung jumlah buah mangga dengan macam-macam warna, mengumpulkan daun mangga, mengklasifikasi daun mangga berdasarkan warna/ukuran, menggambar pohon mangga, menggambar buah mangga, menggambar  kebun mangga, menjiplak tekstur kulit batang mangga, dll.
  • Melakukan pengamatan terhadap pohon mangga yang ada di lingkungan (tekstur kulit pohon mangga, warna batang mangga, tinggi batang, jumlah ranting pada cabang, urutan ukuran daun, berbagai. 
  • Melakukan kegiatan bersama orang tua dan guru misalnya membuat jus, manisan dan berbagai makanan dari buah mangga dan membuka bazar bersama. 
4. PRINSIP KEINSIDENTALAN
Keinsidentalan artinya pemilihan tema tidak selalu baku yang direncanakan di awal tahun, tetapi juga dapat menyisipkan kejadian luar biasa yang dialami anak. misalnya peristiwa banjir yang dialami anak dapat dijadikan tema insidental.
Contoh: Pada saat anak-anak  mengamati pohon mangga  yang berada di luar kelas dan mendiskusikannya, tiba-tiba ada seekor kupu-kupu besar dan berwarna indah melintas dan hinggap pada salah satu ranting bunga yang berada di dekat pohon mangga, maka pendidik dapat mengajak anak untuk membahas kupu-kupu tersebut, tentang warnanya, caranya terbang, apa yang dicari atau dimakan, bagaimana berkembang biaknya dll.
Semoga Prinsip Memilih, Menentukan Tema dan Subtema PAUD K13 bermanfaat dalam menentukan tema dan subtema PAUD.


sumber : 
www.paud.id
Buku Be An Inspiring Teacher

Sukses Belajar di PAUD

Hakikat dan makna belajar dapat diartikan sebagai proses membangun makna dan pemahaman terhadap informasi atau pengalaman baru. Belajar dan pembelajaran memiliki makna yang berbeda bila dilihat dalam kamus bahasa Indonesia maupun dalam pasal 1 UU No. 20 tahun 2003.

Bila melihat referensi tersebut diatas, dapat dikatakan pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan belajar anak didik belajar. Dan untuk kegiatan belajar yang sukses ada beberapa tahap yang dilalui oleh anak yaitu :
1. Pra belajar
2. Proses belajar
3. Pasca belajar

Saya mencoba memetakan atau me-mapping agar mudah dipahami oleh teman-teman yang membaca artikel ini



Tahapan inilah yang sebaiknya dilakukan seorang guru, bukan ujug-ujug mengajar tanpa dilalui dahulu dengan pra belajar. Jika diistilahkan dalam bidang olah raga adalah pemanasan.

Memotivas anak-anak secara umum bahkan dapat memotivasi mereka dengan gaya belajar anak yang telah kita ketahui sebelumnya. Ada anak bergaya belajar auditori dan lain sebagainya. Ada beberapa tools untuk mengetahui gaya belajar seperti sidik jari STIFIn dan lainnya. Kebetulan saya menggunakan tools dengan sidik jari STIFIn, sehingga memudahkan kegiatan belajar mengajar di kelas. Jika teman-teman menggunakan tools lain silahkaa. Memotivasi ini bisa bernyanyi, senam atau lainnya yang bertujuan membangkitkan gairah anak dan siap mengikuti kegiatan pembelajaran.

Setelah melalui pra belajar, kita memasuki tahap proses belajar, disinilah peran guru sebagai mentor dan fasilitator digunakan. Mengarahkan dan memberikan layanan maksimal agar mereka dapat mengerjakan kegiatan dengan baik.

Proses selanjutnya dalah tahap pasca belajar, dan disini dapat menggunakan sedikit tools coaching agar meransang anak dalam mereview kegiatan yang telah dilaksanakan serta membangkitkan keinginannya untuk belajar lebih baik keesokkan harinya.

Didalam buku ini ada beberapa pendekatan yang dapat dipelajari dan bisa pula dikembangkan kembali oleh teman-teman. Mulai dari pendekatan multisensori hingga pendekatan belajar aktif. 

Semoga bermanfaat



Wiwik Suryandarini

Bila ingin mendapatkan buku ini dan info STIFIn teman-teman bisa menghubungi Pak Toni di 081283893081