Expressive Langauge

Expressive Language atau bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik.
Kemampuan ini diajarkan kepada anak usia dini bertujuan agar anak dapat :
1. Memperluas kemampuan mereka untuk menggunakan kata-kata dalam merepresentasikan pengetahuan, kejadian-kejadian, ide-ide, khayalan-khayalan dan presepsi-presepsi mereka;
2. Meningkatkan strategi pengulangan dari kata-kata mereka;
3. Mengenal dan mempergunakan humor sebagai suatu komunikasi;
4. Memperluas kemampuan mereka untuk menyampaikan ide-ide mereka kepada yang lain dengan jelas (dapat dimengerti).


Lalu bagaimana guru dan oangtua dapat mengetahui anak yang memiliki gangguan bahasa ekspresif ini?
Hal yang paling mudah diketahui jika anak memiliki gangguan ini adalah anak memilki pembendaharaan kata terbatas, mengalami kesulitan dalam mengingat katakata dan kesulitan dalam membuat kalimat panjang.

Dan hal yang paling sederhana sebagai therapy anak adalah dengan seringnya berkomunikasi dengan anak, membacakan cerita setiap saat atau membelikan buku bacaan bagi anak

semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini

#catatanwiwik #raudhatulathfal
#kepalamadrasah #pendidikananakusiadini
#beaninspiringteacher #igra
#gurindam #pelatihanguru

LEARNING REVOLUTION

Dalam bahasa kita sehari-hari adalah perubahan cara belajar. Seperti kita ketahui hakikat belajar adalah proses perubahan tingkah laku dengan adanya pengalaman dan latihan dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun aspek lainnya.

Di era globalisasi ini, pendidikan pun tak luput dari revolusi kecerdasan pada anak usia dini salah satunya revolusi cara belajar. Perubahan akan terus terjadi seiring perkembangan jaman di berbagai aspek kehidupan manusia termasuk cara belajar.

Buku The Learning Revolution karya Gordon Dryden dan Jeannette Vos, menjelaskan realitas dunia bergerak sangat cepat dan mempengaruhi aspek kehidupan. Hal ini yang kita sebagai guru anak usia dini rasakan. Perubahan kurikulum, perubahan metode pengajaran dan lain sebagainya.

Real Learning, salah satu bagian dari revolusi tersebut, yaitu belajar dengan benda nyata. Ketika guru mengenalkan buah pisang maka guru membawakan buah pisang sebagai bahan diskusi anak-anak sehingga dapat menggali cara berpikir kreatif anak dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan (Fun Learning). Keaktifan anak-anak akan mendukung kreativitas mereka sehingga apa yang diharapkan dalam belajar melalui pengalaman dapat tercapai.


Proses Belajar Berjualan


Prinsip dari revolution learning adalah
a. Menciptakan kondisi belajar terbaik bagi anak
b. Memiliki presentasi yang baik
c. Pikirkan sesuatu dan memori akan menyimpannya
d. Mengekspresikan hasil belajar
e. Mempraktikkannya
f. Meninjau ulang, mengevaluasi dan merayakan

Bagaimana Fun Learning diterapkan pada pendidkan anak usia dini? Hal ini dikupas pada buku "Be An Inspiring Teacher"
Buku bisa Anda pesan melalui wa/sms ke 081290744451 / 081283893081
atau bisa ke bookoo.co.id

Insyaa Allah besok akan kita bahas tentang Meaningfull Learning.


Wiwik Suryandarini
Developer Potential Teacher

sumber tulisan prinsip-prinsip revolution learning : edutaiment paud oleh M.FAdhillah, M.Pd.I dkk

Jurnal Pagi PAUD

Suka ada pertanyaan, "Bu, jurnal pagi itu seperti apa yah?"

Bagi saya,  jurnal pagi, materi pagi adalah kegiatan sebelum dimulainya pembelajaran di dalam kelas.

Lalu muncul kembali pertanyaan, "Bu, ini dipakai untuk metode sentra saja yah?"

Bagi saya, kegiatan jurnal pagi dan materi pagi dapat dilakukan oleh sekolah yang menggunakan pembelaaran pendekatan metode sentra, area dan kelompok

Bagaimana caranya?
Setelah guru menyambut kedatangan anak dan anak menyimpan perlengkapan sekolahnya, maka anak mengambil kertas kosong dan alat tulis yang telah disediakn. Anak menuangkan isi pikiran dan perasaannya hari itu melalui coretan, gambar atau tulisan yang hendak ia ekspresikan melalui kertas tersebut.

Kegiatan ini memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan dirinya dan guru dapat melihat perkembangan anak dari hari ke hari melalui coretan, gambar atau tulisan tersebut. Jika menemui anak yang tidak melakukan jurnal pagi, ia dapat diarahkan ke ruang baca atau dipersilahkan bermain motorik kasar terlebih dahulu. Setelah dilihat anak tersebut telah nyaman di sekolah, guru dapat menawarkan kembali untuk mengerjakan kegiatan jurnal pagi.

Di sekolah saya, jurnal pagi ini kami isi dengan hal tersebut di atas ditambah pengenalan huruf dan membaca iqro di hari jum'at.



Banyak manfaat dalam kegiatan ini dan salah satunya adalah guru dapat melihat kesiapan anak untuk kegiatan belajar di hari tersebut.

Semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini


#jurnalpagi
#raudhatulathfal

Quantum Learning

Quantum Learning
Sebagian pastinya sudah pernah mendengar dan membaca metode ini. Saya mencoba mengulang kembali dan mungkin ada yang belum mengetahuinya.
Quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategic dan seluruh prose's belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat Serta membuat belajaar sebagai suatu prose's yang menyenangkan dan bermanfaat dengan sugesti yang dilakukan.
Ada beberapa langkah, diantaranya :
1. Pemberian sikap positif pada kegiatan pembelajaran
2. Pemaksimalan kekuatan pikiran dalam pembelajaran
3. Kekuatan pemberian motivasi pada pembelajaran
4. Penataan nyaman pada lingkungan pembelajaran
5. Konsolidasi dalam kegiatan pembelajaran
6. Memupuk sikap juara dalam pembelajaran
Kegiatan pembelajaran quantum learning ini sebenarnya telah dilakukan guru anak usia dini, salah satunya adalah kegiatan bernyanyi yang isinya meningkatkan keinginan anak belajar atau bermain tepuk sebelum kegiatan.
1) Pemberian sikap positif dalam pembelajaran adalah perilaku yang ditumbuhkan atau ditimbulkan oleh sugesti positif yang diberikan guru kepada anak. Karena berangkat dari sikap positif anak akan merasa dihargai keberadaannya dan merasa dianggap penting oleh lingkungan sosialnya.


Menurut DePorter dan Hernacki, dalam metode ini, lingkungan (Sekolah) telah dipersiapkan untuk membuat anak didik nyaman dan aman. Hal ini sesuai dengan pedoman penerapan BCCT (Beyond Centers and Circle Time) dalam pendidikan anak usia dini dimana proses pembelajarannya meliputi kegiatan :
> penataan lingkungan
> penyambutan anak
> jurnal pagi
> transisi kegiatan
> kegiatan inti
> makan bersama
> kegiatan penutup
Dalam pendidikan Islam, pemberian sikap positif dalam pembelajaran merupakan aspek penting dalam membentuk kepribadian anak, sesuai firman Allah dalam Surat Al Imran : 159 :
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi bersikap kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..."
Semoga kita dapat menjadi guru yang selalu menanamkan sikap positif kepada anak didik karena merupakan faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif

Wiwik Suryandarini
Guru dan Penulis Buku "Be An Inspiring Teacher"


PERAN KEPALA SEKOLAH


Hasil gambar untuk gambar kepala sekolah

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;
Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer
Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala sekolah sebagai administrator
Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4. Kepala sekolah sebagai supervisor
Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)
Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).

6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja
Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003)

7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan
Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.
Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.


Sumber tulisan :
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/