Expressive Langauge

Expressive Language atau bahasa ekspresif adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara simbolis baik visual (menulis, memberi tanda) atau auditorik.
Kemampuan ini diajarkan kepada anak usia dini bertujuan agar anak dapat :
1. Memperluas kemampuan mereka untuk menggunakan kata-kata dalam merepresentasikan pengetahuan, kejadian-kejadian, ide-ide, khayalan-khayalan dan presepsi-presepsi mereka;
2. Meningkatkan strategi pengulangan dari kata-kata mereka;
3. Mengenal dan mempergunakan humor sebagai suatu komunikasi;
4. Memperluas kemampuan mereka untuk menyampaikan ide-ide mereka kepada yang lain dengan jelas (dapat dimengerti).


Lalu bagaimana guru dan oangtua dapat mengetahui anak yang memiliki gangguan bahasa ekspresif ini?
Hal yang paling mudah diketahui jika anak memiliki gangguan ini adalah anak memilki pembendaharaan kata terbatas, mengalami kesulitan dalam mengingat katakata dan kesulitan dalam membuat kalimat panjang.

Dan hal yang paling sederhana sebagai therapy anak adalah dengan seringnya berkomunikasi dengan anak, membacakan cerita setiap saat atau membelikan buku bacaan bagi anak

semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini

#catatanwiwik #raudhatulathfal
#kepalamadrasah #pendidikananakusiadini
#beaninspiringteacher #igra
#gurindam #pelatihanguru

LEARNING REVOLUTION

Dalam bahasa kita sehari-hari adalah perubahan cara belajar. Seperti kita ketahui hakikat belajar adalah proses perubahan tingkah laku dengan adanya pengalaman dan latihan dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun aspek lainnya.

Di era globalisasi ini, pendidikan pun tak luput dari revolusi kecerdasan pada anak usia dini salah satunya revolusi cara belajar. Perubahan akan terus terjadi seiring perkembangan jaman di berbagai aspek kehidupan manusia termasuk cara belajar.

Buku The Learning Revolution karya Gordon Dryden dan Jeannette Vos, menjelaskan realitas dunia bergerak sangat cepat dan mempengaruhi aspek kehidupan. Hal ini yang kita sebagai guru anak usia dini rasakan. Perubahan kurikulum, perubahan metode pengajaran dan lain sebagainya.

Real Learning, salah satu bagian dari revolusi tersebut, yaitu belajar dengan benda nyata. Ketika guru mengenalkan buah pisang maka guru membawakan buah pisang sebagai bahan diskusi anak-anak sehingga dapat menggali cara berpikir kreatif anak dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan (Fun Learning). Keaktifan anak-anak akan mendukung kreativitas mereka sehingga apa yang diharapkan dalam belajar melalui pengalaman dapat tercapai.


Proses Belajar Berjualan


Prinsip dari revolution learning adalah
a. Menciptakan kondisi belajar terbaik bagi anak
b. Memiliki presentasi yang baik
c. Pikirkan sesuatu dan memori akan menyimpannya
d. Mengekspresikan hasil belajar
e. Mempraktikkannya
f. Meninjau ulang, mengevaluasi dan merayakan

Bagaimana Fun Learning diterapkan pada pendidkan anak usia dini? Hal ini dikupas pada buku "Be An Inspiring Teacher"
Buku bisa Anda pesan melalui wa/sms ke 081290744451 / 081283893081
atau bisa ke bookoo.co.id

Insyaa Allah besok akan kita bahas tentang Meaningfull Learning.


Wiwik Suryandarini
Developer Potential Teacher

sumber tulisan prinsip-prinsip revolution learning : edutaiment paud oleh M.FAdhillah, M.Pd.I dkk

Jurnal Pagi PAUD

Suka ada pertanyaan, "Bu, jurnal pagi itu seperti apa yah?"

Bagi saya,  jurnal pagi, materi pagi adalah kegiatan sebelum dimulainya pembelajaran di dalam kelas.

Lalu muncul kembali pertanyaan, "Bu, ini dipakai untuk metode sentra saja yah?"

Bagi saya, kegiatan jurnal pagi dan materi pagi dapat dilakukan oleh sekolah yang menggunakan pembelaaran pendekatan metode sentra, area dan kelompok

Bagaimana caranya?
Setelah guru menyambut kedatangan anak dan anak menyimpan perlengkapan sekolahnya, maka anak mengambil kertas kosong dan alat tulis yang telah disediakn. Anak menuangkan isi pikiran dan perasaannya hari itu melalui coretan, gambar atau tulisan yang hendak ia ekspresikan melalui kertas tersebut.

Kegiatan ini memberikan ruang pada anak untuk mengekspresikan dirinya dan guru dapat melihat perkembangan anak dari hari ke hari melalui coretan, gambar atau tulisan tersebut. Jika menemui anak yang tidak melakukan jurnal pagi, ia dapat diarahkan ke ruang baca atau dipersilahkan bermain motorik kasar terlebih dahulu. Setelah dilihat anak tersebut telah nyaman di sekolah, guru dapat menawarkan kembali untuk mengerjakan kegiatan jurnal pagi.

Di sekolah saya, jurnal pagi ini kami isi dengan hal tersebut di atas ditambah pengenalan huruf dan membaca iqro di hari jum'at.



Banyak manfaat dalam kegiatan ini dan salah satunya adalah guru dapat melihat kesiapan anak untuk kegiatan belajar di hari tersebut.

Semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini


#jurnalpagi
#raudhatulathfal

Quantum Learning

Quantum Learning
Sebagian pastinya sudah pernah mendengar dan membaca metode ini. Saya mencoba mengulang kembali dan mungkin ada yang belum mengetahuinya.
Quantum learning adalah kiat, petunjuk, strategic dan seluruh prose's belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat Serta membuat belajaar sebagai suatu prose's yang menyenangkan dan bermanfaat dengan sugesti yang dilakukan.
Ada beberapa langkah, diantaranya :
1. Pemberian sikap positif pada kegiatan pembelajaran
2. Pemaksimalan kekuatan pikiran dalam pembelajaran
3. Kekuatan pemberian motivasi pada pembelajaran
4. Penataan nyaman pada lingkungan pembelajaran
5. Konsolidasi dalam kegiatan pembelajaran
6. Memupuk sikap juara dalam pembelajaran
Kegiatan pembelajaran quantum learning ini sebenarnya telah dilakukan guru anak usia dini, salah satunya adalah kegiatan bernyanyi yang isinya meningkatkan keinginan anak belajar atau bermain tepuk sebelum kegiatan.
1) Pemberian sikap positif dalam pembelajaran adalah perilaku yang ditumbuhkan atau ditimbulkan oleh sugesti positif yang diberikan guru kepada anak. Karena berangkat dari sikap positif anak akan merasa dihargai keberadaannya dan merasa dianggap penting oleh lingkungan sosialnya.


Menurut DePorter dan Hernacki, dalam metode ini, lingkungan (Sekolah) telah dipersiapkan untuk membuat anak didik nyaman dan aman. Hal ini sesuai dengan pedoman penerapan BCCT (Beyond Centers and Circle Time) dalam pendidikan anak usia dini dimana proses pembelajarannya meliputi kegiatan :
> penataan lingkungan
> penyambutan anak
> jurnal pagi
> transisi kegiatan
> kegiatan inti
> makan bersama
> kegiatan penutup
Dalam pendidikan Islam, pemberian sikap positif dalam pembelajaran merupakan aspek penting dalam membentuk kepribadian anak, sesuai firman Allah dalam Surat Al Imran : 159 :
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi bersikap kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..."
Semoga kita dapat menjadi guru yang selalu menanamkan sikap positif kepada anak didik karena merupakan faktor penting untuk merangsang fungsi otak yang paling efektif

Wiwik Suryandarini
Guru dan Penulis Buku "Be An Inspiring Teacher"


PERAN KEPALA SEKOLAH


Hasil gambar untuk gambar kepala sekolah

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, –sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan;
Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

1. Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)
Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2. Kepala sekolah sebagai manajer
Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya–, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti : kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3. Kepala sekolah sebagai administrator
Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

4. Kepala sekolah sebagai supervisor
Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (E. Mulyasa, 2004). Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, — tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukakan bahwa “ menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”. Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

5. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)
Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan kompetensi guru ? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kendati demikian menarik untuk dipertimbangkan dari hasil studi yang dilakukan Bambang Budi Wiyono (2000) terhadap 64 kepala sekolah dan 256 guru Sekolah Dasar di Bantul terungkap bahwa ethos kerja guru lebih tinggi ketika dipimpin oleh kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan (E. Mulyasa, 2003).

6. Kepala sekolah sebagai pencipta iklim kerja
Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan, (2) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut, (3) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya, (4) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan, (5) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan (modifikasi dari pemikiran E. Mulayasa tentang Kepala Sekolah sebagai Motivator, E. Mulyasa, 2003)

7. Kepala sekolah sebagai wirausahawan
Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.
Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.


Sumber tulisan :
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/

Bermain Peran Pada Anak Usia Dini


Menurut  Goleman (1995) menjelaskan bahwa orang-orang yang terampil dalam berinteraksi sosial memiliki kecerdasan sosial yang dapat menjalin hubungan dengan orang lain dengan cukup lancar, peka membaca
reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisasi serta pintar menangani perselisihan yang muncul. Lebih lanjut Goleman (1995) menjelaskan bahwa hubungan sosial yang baik dapat ditinjau
dari dimensi-dimensi keterampilan sosial yaitu : dimensi penaruh, dimensi komunikasi, dimensi manajeman konflik, dimensi kepemimpinan, dimensi katalisator.
Pada anak jaman sekarang terlihat rendahnya keterampilan sosial yang mereka miliki dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi guru di sekolah maupun orang  tua di rumah.
Rendahnya keterampilan sosial anak membuat anak kurang mampu dalam menjalin interaksi sosial dengan lingkungannya. Metode bermain peran dapat menjadi solusi untuk menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan sosial yang cenderung diabaikan oleh lingkungan.


(mendengarkan arahan bermin peran)

Menurut Yuliani Nurani Sujiono, dkk (2008), bermain peran atau role playing adalah suatu kegiatan untuk memerankan sesuatu diluat perannya sendiri agar anak dapat memiliki pemahaman dan pandangan yang benar tentang sejarah di masa lampau, kemungkinan peristiwa di masa dating dan peristiwa hangat yang memiliki arti penting di masa kini atau situasi yang diciptakan suatu saat dan disetiap tempat. Seorang anak yang sedang bermain peran akan masuk ke dunia orang lain dengan jalan mengkreasi sikap dan tindakan orang yang diperankannya dengan maksud agar ia dapat memahami orang lain tersebut secara lebih baik.
Prosedur bermain peran menurut Uno (2008: 26) terdiri atas sembilan langkah, yaitu:
a)    Persiapan atau pemanasan
Guru berupaya memperkenalkan murid pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Hal ini bisa muncul dari imajinasi murid atau sengaja disiapkan oleh guru. Sebagai contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibaca di depan kelas. Pembacaan cerita berhenti jika dilema atau masalah dalam cerita menjadi jelas. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat murid berpikir tentang hal tersebut dan membuat mereka untuk berimajinasi.
b)    Memilih pemain (partisipan)
Murid dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam pemilihan pemain, guru dapat memilih murid yang sesuai untuk memainkannya (jika murid pasif atau diduga memiliki keterampilan berbicara yang rendah) atau murid sendiri yang mengusulkannya.
c)    Menata panggung (ruang kelas)
Guru mendiskusikan dengan murid di mana dan bagaimana peran itu akan dimainkan serta apa saja kebutuhan yang diperlukan.
d)   Menyiapkan pengamat (observer)
Guru menunjuk murid sebagai pengamat, namun demikian penting untuk dicatat bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran.
e)   Memainkan peran
Permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya akan  banyak murid yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan mungkin ada yang memainkan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlalu jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segera masuk ke langkah berikutnya.
f)     Diskusi dan evaluasi
Guru bersama dengan murid mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul, mungkin ada murid yang meminta untuk berganti peran atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah.
g)    Bermain peran ulang
Permainan peran ulang seharusnya berjalan lebih baik, murid dapat memainkan perannya lebih sesuai dengan skenario.
h)   Diskusi dan evaluasi kedua
Pembahasan diskusi dan evaluasi kedua diarahkan pada realitas. Mengapa demikian? Pada saat permainan peran dilakukan banyak peran yang melampaui batas kenyataan, sebagai contoh seorang murid memainkan peran sebagai pembeli, ia membeli barang dengan harga yang tidak realistis. Hal ini dapat menjadi bahan diskusi.
i)      Berbagi pengalaman dan diskusi
Murid diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya murid akan berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya murid menghadapi situasi tersebut. Seandainya jadi  Ayah dari murid tersebut, sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara ini, murid akan belajar tentang kehidupan.

Selain menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan sosial bagi anak didik, metode ini memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan imajinasinya dalam memerankan seorang tokoh. Mereka diberi kebebasan untuk berekspresi dan menggunakan benda-benda sekitarnya agar lebih menghayati peran yang mereka mainkan. Metode bermain peran juga dapat membantu guru dalam pembentukan karakter pada anak sesuai salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Contoh kegiatan metode bermain peran yang dapat membentuk perilaku anak salah satunya adalah bermain Tamu dan Tuan rumah. Disini anak dibagi menjadi 2 kelompok ada yang berperan sebagai tuan rumah dan satunya lagi berperan sebagai tamu. Sebelum permainan dimulai guru memberikan penjelasan bagaimana cara menjadi tamu yang baik, dimulai dari memberi salam dan sampai pulangnya. yang sebagai tuan rumah juga diberi penjelasan bagaimana cara menerima tamu dengan baik, mulai membalas salam, membukakan pintu sampai membuatkan minuman untuk tamunya. Jika ada kesalahan disaat permainan dimulai pada murid-murid dalam perilakunya maka disini guru berperan untuk memperbaiki sikap yang salah menjadi benar hingga terbentuknya karakter yang baik pada anak-anak tersebut dengan baik. Didalam permainan itu ruangan disetting membentuk pola seperti rumah sungguhan.
Bukan hanya bermain peran tuan rumah dan tamu saja, tapi juga bisa bermain peran penjual dan pembeli, dokter dan pasien, dll. Secara tidak langsung setelah memainkan bermain peran tersebut, anak sudah mendapatkan ilmu dan perilaku yang baik tentang cara bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain, bersikap yang baik dan sopan, bicara dengan tutur yang baik dan kreatif hingga sesuai dengan pendidikan karakter yang tengah berjalan disaat ini.
Pendidikan karakter yang dimasukkan ke dalam kegiatan metode bermain peran ini di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur dan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.


sumber tulisan :
https://yudhaenisanew.blogspot.co.id/2015/07/peran-metode-bermain-peran-dalam
Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini oleh Dr. Yuliani Nurani S, M.Pd.

Wheel Of Learning

Kalimat judul di atas adalah bagian dari hasil saya belajar Coaching di program Teacher As Coach yang diinisiasi oleh LOOP Indonesia.

Saya sangat beruntung menjadi salah satu peserta disana. Ilmu coaching yang disampaikan oleh para mentor membuat saya terpana, terbengong-bengong dan lain sebagainya. Selain ilmunya, jalinan silaturahim juga mewarnai kebersamaan kami sebagai peserta yang berasal dari berbagai daerah salah satunya Pak Dedih yang berasal dari Kalimantan.

Sehari setelah sesi sharing dari para mentor, saya mencoba mempraktekkannya bersama guru-guru saya di RA Ash-Shifa Bekasi Utara. Mulai dari presentasi hingga coaching kepada salah satu guru.
Hasil dari diskusi dari presentasi coaching, disepakati oleh guru-guru bahwa ada bagian-bagian yang berada dalam ranah yang akan jadi agenda kami 2 tahun ke depan dan biar kayak guru jaman now,  kami menamainya sebagai Wheel Of Learning.

Dari masing-masing bagian terdapat goal yang akan kami capai bersama, semoga Allah memudahkan langkah-langkah kami, aamin


Sesi coaching pertama, kami memilih pengaruh tehnologi yang menjadi pembahasan kami dan goal kami adalah membuat salah satu murid kami terlepas dari ketergantungan gadget. Semangat yah ibu guru Ash-Shifa. ini akan jadi amal kebaikan kita untuk mendapat kasih sayang Nya.

Bagi teman-teman yang ingin bersedia buat grup coaching, saya dengan senang hati akan sharing di tempat teman-teman, baik sekolah maupun komunitas lainnya.

selanjutnya bisa hubungi nomor ini yah 081290744451.

Semoga bermanfaat

Wiwik Suryandarini