Metodologi Pembelajaran Matematika Anak Usia Dini



 A.        Karakteristik Anak Usia Dini
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab I Pasal 1 ayat 14 berbunyi Pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian ransangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan anak usia dini terbagi menjadi 2 yaitu : pendidikan dijalur formal -à Taman kanak kanak, Raudhatul Athfal, Bustanul Athfal dan pendidikan di jalur non formal -à Kelompok Bermain, TPA, PAUD SPS, BKB.
Pada masa usia ini sering disebut masa Golden Age dikarenakan perkembangan anak pada usia ini sangatlah menentukan perkembangan anak berikutnya. Ibarat kertas putih maka coretan yang bermanfaat amatlah berkesan dan bermakna didalam kehidupan anak tersebut. Bila coretan tersebut kotor maka kotor tersebut akan berakibat pada perkembangan anak berikutnya dan amat sulit serta membutuhkan tenaga ekstra untuk dapat merubahnya menjadi bersih.
Anak usia dini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.       Anak belajar dengan sebaik-baiknya apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi  serta merasakan aman dan tentram secara psikologis
2.       Siklus belajar anak selalu berulang dimulai dari membangun kesadaran, melakukan eksplorasi, memperoleh penemuan untuk selanjutnya anak dapat mempergunakannya
3.       Anak belajar melalui interaksi social dengan orang dewasa dan teman sebayanya
4.       Minat anak dan keingintahuannya memotivasi belajarnya
5.       Perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individual
6.       Anak belajar dengan cara dari sederhana ke rumit , konkret ke abstrak,  dari gerakan ke verbal dan dari ke-akuan ke social
Dengan hal tersebut, maka bermain adalah suatu kegiatan yang tepat untuk anak usia dini bereksprlorasi dan belajar.  Berikut ini pendapat beberapa tokoh pendidikan :
1.       Mayesty (1990) bermain adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang hari oleh anak, menurut anak bermain adalah hidup dan hidup untuk bermain
2.       Piaget (1990)bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan bagi diri seseorang
3.       Patern, bermain sebagai sarana sosialisasi diharapkan melalui bermain dapat memberikan kesepakatan pembelajaran anak yang menyenangkan

Berhubungan dengan hal tersebut maka pemerintah dalam UU Sisdiknasnya menganjurkan pembelajaran untuk anak TK dan SD kelas awal menggunakan system pembelajaran PAKEM yaitu Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.

Prinsip pembelajaran Anak Usia Dini :
1.       Anak sebagai pembelajar yang aktif
2.       Anak belajar melalui sensori dan panca indera
3.       Anak membangun pengetahuan sendiri
4.       Anak berpikir melalui benda konkret
5.       Anak belajar dari lingkungan


B.        Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini

Menurut Coughlin dkk (2000) menjelaskan ciri ciri umum anaka dalam rentang usia 3-4 tahun diantaranya adalah : (1) menunjukan perilaku yang semangat, menawan sekaligus tampak kasar pada saat-saat tertentu, (2) anak mulai berusaha memahami dunia disekelilingnya, (3) pada situasi tertentu anak menjadi tampak menawan dan dapat bekerjasama namun pada saat yang lain ia menjadi pembangkang, pengatur dan penuntut (4) anak mampu mengembangkan kecerdasan bahasadengan cepat  (5) secara fisik, anak memiliki tenaga yang besar tetapi rentang konsentrasinya pendek sehingga cenderung berpindah dari kegiatan yang satu ke  kegiatan yang lain.
Kemampuan kognitif pada usia ini adalah:
·         Dapat memahami konsep makna yang berlawanan
·         Dapat memadankan bentuk geometri dengan objek nyata atau visualisasi gambar
·         Dapat menumpuk balok sesuai ukuran secara berurutan
·         Dapat menyebutkan pasangan benda
·         Mampu memahami sebab akibat
·         Dapat merangkai kegiatan sehari-hari dan menunjukkan kapan setiap kegiatan dilakukan
·         Mengenali dan membaca tulisan melalui gambar yang sering dilihatnya
·         Mengenali dan menyebut angka 1-10
·         Mencocokkan beberapa objek yang sama
·         Memperlihatkan aktifitas kreatif permulaan
Kemampuan dan minat untuk anak usia 4-6 tahun mengalami banyak perubahanyang sangat berarti sehingga banyak hal yang layak diberikan pada usia ini. Anak usia ini senang melakukan berbagai eksplorasi terhadap segala sesuatu yang dilihatnya sehingga membangun keingintahuannya yang sangat besar pada hal tersebut.

Kemampuan kognitif pada usia ini :
·         Menunjukkan minat dalam rasa dan perbedaan aktivitas sensori motor
·         Menunjukkan minat dalam angka-angka sederhana dan kuantitas kegiatan
·         Melakukan kegiatan yang lebih bertujuan dan mempu merencanakan suatu kegiatan yang aktif
·         Menunjukkan peningkatan minat dalam menghasilkan rancangan termasuk puzzle dan dalam mengkonstruksikan dunia permainan
·         Turut serta dalam pertunjukkan seni yang membutuhkan aksi panggung
·         Menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap sesuatu yang nyata dalam berbagai macam bentuk, pakaian, bermain peran, dan permainan konstruktif
·         Menunjukkan minat terhadap alam, pengetahuan, binatang, waktu dan bagaimana benda bekerja
 
Menurut Piaget (1972) pengenalan matetmatika sebaiknya dilakukan melalui penggunaan benda-banda konkrit dan pembiasaan penggunaan matematika agar anak dapa memahami konsep matematika. Sebagai contoh mengingatkan anak tentang tanggal dan menuliskannya di papan tulis.
Pembelajaran di TK pada mulanya difokuskan hanya pada 3R yaitu reading, writing dan aritmatic atau yang sering disebut Calistung namun pada perkembangannya kegiatan di TK sekarang tidak hanya mengembangkan 3 R tersebut tetapi mengembangkan aspek anak secara menyeluruh yang disebut kecerdasan Multiple intelligences (Howard Gardner) yaitu:
1.       Kecerdasan kinestetik
2.       Kecerdasan intrapersonal
3.       Kecerdasan interpersonal
4.       Kecerdasan naturalistic
5.       Kecerdasan spasial
6.       Kecerdasan linguistic
7.       Kecerdasan logic matematika
8.       Kecerdasan musical
9.       Kecerdasan emosi
10.   Kecerdasan spiritual

Sumber : Pembelajaran untuk Anak TK oleh Drs. Slamet Suyanto, Majalah Ayah Bunda, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini oleh Dr. Yuliani N.S, M.Pd 

karakteristik anak usia dini


A.        Karakteristik Anak Usia Dini
Menurut UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab I Pasal 1 ayat 14 berbunyi Pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian ransangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan anak usia dini terbagi menjadi 2 yaitu : pendidikan dijalur formal -à Taman kanak kanak, Raudhatul Athfal, Bustanul Athfal dan pendidikan di jalur non formal -à Kelompok Bermain, TPA, PAUD SPS, BKB.
Pada masa usia ini sering disebut masa Golden Age dikarenakan perkembangan anak pada usia ini sangatlah menentukan perkembangan anak berikutnya. Ibarat kertas putih maka coretan yang bermanfaat amatlah berkesan dan bermakna didalam kehidupan anak tersebut. Bila coretan tersebut kotor maka kotor tersebut akan berakibat pada perkembangan anak berikutnya dan amat sulit serta membutuhkan tenaga ekstra untuk dapat merubahnya menjadi bersih.
Anak usia dini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.       Anak belajar dengan sebaik-baiknya apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi  serta merasakan aman dan tentram secara psikologis
2.       Siklus belajar anak selalu berulang dimulai dari membangun kesadaran, melakukan eksplorasi, memperoleh penemuan untuk selanjutnya anak dapat mempergunakannya
3.       Anak belajar melalui interaksi social dengan orang dewasa dan teman sebayanya
4.       Minat anak dan keingintahuannya memotivasi belajarnya
5.       Perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individual
6.       Anak belajar dengan cara dari sederhana ke rumit , konkret ke abstrak,  dari gerakan ke verbal dan dari ke-akuan ke social
Dengan hal tersebut, maka bermain adalah suatu kegiatan yang tepat untuk anak usia dini bereksprlorasi dan belajar.  Berikut ini pendapat beberapa tokoh pendidikan :
1.       Mayesty (1990) bermain adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang hari oleh anak, menurut anak bermain adalah hidup dan hidup untuk bermain
2.       Piaget (1990)bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan bagi diri seseorang
3.       Patern, bermain sebagai sarana sosialisasi diharapkan melalui bermain dapat memberikan kesepakatan pembelajaran anak yang menyenangkan

Berhubungan dengan hal tersebut maka pemerintah dalam UU Sisdiknasnya menganjurkan pembelajaran untuk anak TK dan SD kelas awal menggunakan system pembelajaran PAKEM yaitu Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.

Prinsip pembelajaran Anak Usia Dini :
1.       Anak sebagai pembelajar yang aktif
2.       Anak belajar melalui sensori dan panca indera
3.       Anak membangun pengetahuan sendiri
4.       Anak berpikir melalui benda konkret
5.       Anak belajar dari lingkungan

Menulis itu mudah (rangkuman pelatihan KTI)

Menulis adalah aktivitas melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan
Mengapa menulis?...karena

  • menulis merupkan bagian dari dinamika kehidupan manusia
  • tulisan adalah bank memori
Tujuan menulis adalah
  1. Mengonformasikan pengetahuanatau pemahaman
  2. Bersifat membujuk
  3. Mendidik
  4. Menghibur....(dan menghasilkan tambahan kocek keluarga hehehe)
Bagaimana memulainya?...
  1. Luruskan niat
  2. Mulai dengan menulis bebas
  3. Gunakan mind mapping
  4. Mulai kebiasaan membaca
  5. Mulai latihan sesering mungkin
  6. Terus menulis
KTI adalah karya yang membahas suatu permasalahanditinjau dari sudut pandang teori ilmiah dimana masalah tersebut akan memberikan manfaat bagi kehidupan. Adapun ciri-ciri tulisan ilmiah adalah:
  1. logis
  2. sistematis
  3. objektif
  4. tuntas dan menyeluruh
  5. telaah secara lengkap
  6. jelas
  7. kebenaran teruji
  8. terbuka(bisa berubah jika ada pendapat baru)
Masih ngambang/bingung....
Mula-mula..
  • Cari ide atau tema yang mau kita tulis
  • kalo tema anak didik --> perkembangannya--> fisik,psikis,bahasa,dll, atau proses belajar
  • tema proses pembelajaran-->metode belajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, kurikulum, dll
  • tema tenaga pendidik-->kinerja, manajemen,adminisrasi,dll
Nah..sudah nga bingungkan...silahkan menulis dan bila ada kesulitan silahkan hubungi pembicaranya : nyimasgandasari@yahoo.com atau boleh ke wsurya74@gmail.com.
Sukses menyertai.
  •  

Manajemen Berbasis Sekolah di PAUD Bahrul Ulum


Berdasarkan latar belakang masalah di PAUD Bahrul Ulum, dapat diindentifikasikan masalah-masalah yang muncul sebagai berikut:
a.         Bagaimana terjalin hubungan yang harmonis dengan PAUD Nonformal yang banyak di lingkungan Kelurahan Mangga Dua Selatan?
b.        Bagaimana strategi sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan RA Bahrul Ulum agar tetap diminati oleh orang tua sebagai alternatif pendidikan prasekolah?

1.    Strategi Pemecahan Masalah
a.      Deskripsi strategi pemecahan masalah yang dipilih
Sebagaimana telah diuraikan di atas mengenai latar belakang dan permasalahan yang mucul tersebut, maka diadakanlah rapat kepala sekolah dan guru dalam mencari solusi permasalahan tersebut serta sebagai pendapat praktisi pendidikan kami mengundang Pengawas RA/MI Kecamatan Sawah Besar. Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) menjadi  alternatif kami. Strategi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah suatu strategi pengelolaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang menekankan pada pengerahan dan pendayagunaan sumber internal sekolah dan lingkungannya secara efektif dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas dan bermutu. Menurut Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

b.      Tahapan operasional pelaksanaannya
Setelah rapat sekolah maka kami mulai menginvetariskan langkah-langkah yang harus kami lakukan yaitu:
  1. Mengadakan rapat orangtua murid dengan membentuk komite sekolah yang menjadi mitra bagi sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan serta efektifitas hubungan sosial masyarakat sehingga dapat menjadi salah satu promosi sekolah
  2. Penjelasan program sekolah agar terjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua murid, contoh:
Ø  Mengadakan kunjungan-kunjungan edukasi yang mempeluas pengetahuan anak seperti kunjungan ke pemadam kebakaran
Ø  Mengadakan puncak tema yang menampilkan hasil karya anak
  1. Membangun hubungan dengan Pihak Pemerintahan setempat yaitu Kelurahan dan Puskesmas Mangga Dua Selatan sebagai mitra sekolah dan sumber informasi kegiatan pendidikan anak usia dini di lingkungan setempat.
  2. Menjalin kerjasama dengan Kader PKK di lingkungan sekolah dengan membuka PAUD Nonformal yang belum ada yaitu Bina Keluarga Balita (BKB) yang khusus untuk usia 3-4 tahun.
  3. Meningkatkan kualitas guru RA dan kader PKK yang menjadi guru pendamping dengan mengikuti pelatihan, workshop dan seminar yang diadakan oleh lembaga-lembaga penyelenggara seperti IGRA Jakarta Pusat.
  4. Memotivasi guru untuk mengembangkan diri seperti menyelesaikan pendidikan sampai jenjang S-1 dan sekolah berusaha untuk mengajukan beasiswa kepada guru yang sedang kuliah
  5. Mendayagunakan guru yang mempunyai potensi untuk mengajar ektrakurikuler
  6. Membuat transparansi keuangan kepada pihak yayasan, guru, komite sekolah dan orangtua
  7. Membuat kurikulum muatan sekolah agar dapat menunjang kurikulum sekolah yang sudah ada, yaitu :
Ø  Mengadakan ektrakurikuler tanpa membayar yaitu: pengenalan bahasa inggris bagi anak usia dini, pengenalan seni lukis, pengenalan dasar computer dan seni angklung
Ø  Memberi kesempatan orangtua menjadi guru tamu di kelas



BAB II
PEMBAHASAN

1.    Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah
Alasan kami memilih Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dikarenakan terjalinnya kerjasama internal dan eksternal sekolah sehingga dapat mendukung proses kegiatan belajar mengajar dan menghasilkan kompetensi lulusan yang diharapkan serta keharmonisan dengan lembaga sekolah lainnya baik formal dan nonformal.
Peningkatan efisiensi sekolah antara lain dapat diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, peningkatan profesionalisme guru, serta terciptanya iklim sekolah yang nyaman dan kondusif.
E. Mulyasa dalam bukunya Manajemen Berbasis Kompetensi menuliskan
tujuan Manajemen Berbasis Sekolah yang lebih rinci yaitu:
1.    Meningkatkan peran serta warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan penidikan melalui pengambilan keputusan bersama
2.    Meningkatkan tanggungjawab sekolah terhadap orangtua, mayarakat, dan pemerintah yang akan dicapai;
3.    Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan;
4.    Memberikan pertanggungjawaban tentang mutu pendidikan kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dan masyarakat
5.    Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menyusun kurikulum muatan lokal, sedangkan kurikulum inti dan evaluasi berada pada kewenangan pusat dan pengembangannya disesuaikan dengan daerah dan sekolah masing-masing.
6.    Memberikan kesempatan untuk menjalin hubungan kerjasama kepada sekolah baik dengan perorangan, masyarakat, lembaga dan dunia usaha yang tidak mengikat.
Hal inilah yang menjadi pemicu kami agar berusaha dapat menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) sehingga tujuan kami untuk menjadikan RA. Bahrul Ulum menjadi  sekolah yang mutu pendidikan dan kompetensi lulusannya baik serta terjalin komunikasi yang harmonis dapat tercapai.

2.        Hasil atau Dampak Yang Dicapai Dari Strategi Yang Dipilih
  1. Kestabilan dalam penerimaan murid baru
  2. Keberhasilan lulusan murid RA kami yang mendapat peringkat 10 besar di Sekolah Dasar
  3. Keharmonisan komunikasi antar lembaga sekolah sehingga program sekolah kami menjadi acuan bagi sekolah lainnya
  4. Keharmonisan komunikasi dengan komite sekolah yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan guru seperti bantuan dana kesehatan bagi guru
  5. Guru termotivasi untuk lebih mengembangkan diri agar tercapai tujuan pelaksanaan pengajaran yang telah disepakati oleh sekolah dan komite sekolah
  6. Keberhasilan dalam pencapaian Standar Nasional Pendidikan yang dibuktikan dengan Akreditasi B.

3.        Kendala-kendala Yang Dihadapi Dalam Melaksanakan Strategi Yang Dipilih
a.       Tingkat pandangan sebagian masyarakat di lingkungan sekitar yang masih menggunakan khilafiah dalam pengajaran sehingga memerlukan penjelasan yang luas akan hal tersebut
b.      Dikarenakan tempat kegiatan kami menggunakan tanah wakaf masjid, maka terkadang terjadi kesalahpahaman ketika mengadakan suatu kegiatan
c.       Belum tercapainya standar honor bagi guru yang sesuai dengan upah minimum regional(UMR) atau minimal setengah dari UMR terkadang menjadi kendala bagi kebersamaan guru karena mereka mengajar di tempat lain atau mengadakan kegiatan lain untuk menunjang penghasilan keluarga
d.      Instrumen pengukuran keberhasilan program belum terinventarisir secara maksimal dikarenakan keterbatasan waktu tersebut, namun telah dapat dinikmati hasil penerapan manajemen berbasis sekolah dengan transparansi dan komunikasi yang baik diantara sekolah dan warga sekolah dan sampai sekarang kami terus melakukan program perbaikan berkelanjutan.

4.        Faktor-faktor Pendukung
a.       Pihak yayasan yang membantu motivasi terhadap sekolah dengan memberikan keleluasaan dalam pengelolaan keuangan sekolah di setiap kegiatan
b.      Pihak Pengawas RA/MI yang terus menyumbangkan saran dalam pengembangan diri sekolah di setiap kegiatan rapat gugus IGRA
c.       Orang tua alumni anak RA Bahrul Ulum yang membantu penjelasan bila ada ketidaktahuan masyarakat tentang system pengajaran di RA Bahrul Ulum
d.      Komite sekolah yang mendukung kegiatan sekolah dan bersedia duduk bersama dalam mencari jalan keluar bila terjadi permasalahan dalam kegiatan dan kenyamanan belajar di sekolah
e.       Kerjasama antar guru yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik
f.       Kader PKK yang turut andil dalam penjelasan kegiatan belajar mengajar di PAUD dan RA Bahrul Ulum kepada masyarakat di lingkungan sekitar
g.      Masyarakat sekitar yang peduli pendidikan di lingkungan sekitar turut membantu pelaksanaan kegiatan di luar sekolah dalam upaya peningkatan mutu sekolah

5.        Alternatif Pengembangan
Sesuai program sekolah kami, yaitu:
a)      Jangka Pendek.
v  Mengadakan perbaikan sarana dan prasarana belajar
v  Mengadakan perbaikan administrasi dan manajemen sekolah.
v  Menyebarluaskan informasi pendidikan PAUD, RA Bahrul Ulum pada masyarakat sekitar.
b)      Jangka Menengah.
v  Memberikan dana kesejahteraan bagi para pengajar dan insentif prestasi bagi guru yang unggul dalam mengajar.
v  Menyusun anggaran untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan para guru.
v  Menyelenggarakan usaha-usaha yang dapat meningkatkan pendapatan sekolah yang tidak bertentangan dengan peraturan sekolah
c)      Jangka Panjang
v  Bersama-sama yayasan bahrul ulum menyusun anggaran dan membuat permohonan bantuan untuk memiliki gedung/sarana pendidikan sendiri kepada pihak pemerintah, pribadi maupun pihak swasta.(karena sampai saat ini kegiatan PAUD dan RA masih menumpang di masjid al-mubarokah)



BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL

1.    Rumusan Simpulan
Pada dasarnya Manajemen Berbasis Sekolah menggarisbawahi dan menekankan pentingnya peran masing masing warga sekolah. Kepala sekolah hanya dapat meraih kesuksesan dengan bekerja sama dengan warga sekolah lainnya, kepemimpinan kependidikan kemudian ditujukan kepada peningkatan produktifitas, aktivitas dan usaha-usaha yang dilakukan oleh warga sekolah.
Manajemen Berbasis Sekolah yang menitik bertkan pada pemberdayaan warga sekolah yang bertujuan meningkatkan partisipasi yang luas dari warga sekola dalam semua kegiatan-kegiatan sekolah.
Keikutsertaan dan partisipasi yang luas dari warga sekolah ini adalah sangat penting dalam membentuk pandangan-pandangan bersama yang pada akhirnya dapat membentuk rasa memiliki bersama diatara warga sekolah dan hal ini adalah mutlak bagi tercapainya proses perubahan yang efektif dan usaha-usaha pengembangan yang dilakukan oleh sekolah.
Secara umum dapat diyakini bahwa warga sekolah akan menunjukkan tingkat dukungan yang lebih besar pada setiap keputusan yang diambil dimana mereka diikutsertakan secara lansung dan bermakna. Keikutsertaan ini menghilangkan rasa diasingkan, memupuk rasa saling percaya, meningkatkan motivasi dan menciptakan komitmen terhadap semua keputusan yang diambil bersama.
Dan pada kenyataannya kepala sekolah tidak memiliki monopoli dalam kepemimpinannya, ada pihak-pihak luar seperti orang tua, komite sekolah, pengawas dan kelompok masyarakat juga memainkan perannya dalam lingkup pendidikan sehingga kerjasama dan komunikasi yang baik dapat memperbaiki mutu sekolah tersebut.

2.    Rumusan Rekomendasi Operasional untuk Implementasi Temuan
Berdasarkan pengalaman di sekolah tersebut, maka hendaknya setiap kepala sekolah memiliki fleksibelitas dalam hubungan sosial di masyarakat karena hal ini akan memudahkan dalam menghadapi situasi dan kepentingan yang berbeda dan membutuhkan penanganan dan perlakuan yang tentu juga berbeda.
Dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan kepala sekolah tidak arogan dalam mengambil setiap keputusan tetapi mau mendengarkan pendapat dari setiap warga sekolah baik orangtua, komite sekolah, guru dan komponen lainnya. Untuk mendukung efektifnya penerapan manajemen berbasis sekolah tersebut sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Mendeskripsikan lulusan dengan indikator yang jelas yang diikuti dengan indentifikasi kebutuhan kurikulum, kompetensi pendidik, sarana, biaya, dan sistem pengelolaan.
  • Meningkatkan keberdayaan sekolah dalam mengembangkan sistem informasi sebagai bahan pengambilan keputusan.
  • Menyediakan  infomasi yang perlu dipahami oleh seluruh anggota komunitas agar tiap orang dipastikan dapat melaksanakan tugasnya secara optimal.
  • Meningkatkan kegiatan sosialisasi program sehingga semua pihak dipastikan mendapatkan informasi secara transparan dan akuntabel.
  • Mempersiapkan instrumen pengukuran pencapaian kinerja baik terhadap proses maupun hasil dengan indikator yang transparan sehingga semua pihak memahami betul ukuran keberhasilan yang disepakati.
  • Melaksanakan pertemuan mengembangakan  rencana kegiatan, evaluasi kegiatan, dan evaluasi hasil.
  • Menyusun pertanggung jawaban program secara transparan dan akuntabel.
  • Melakukan perbaikan berkelanjutan.

Ketika anak terlambat bicara

Siapa yang tak miris hati seorang ibu bila melihat anaknya tak dapat bicara?...
Pada saat anak seusianya berceloteh dan bernyanyi dengan riang, tetapi ia hanya bisa menatap dan seolah ingin sekali meniru gaya temannya namun ia tak mampu melakukannya.
Namun sebagai makhluk Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, janganlah berputus asa karena setiap ada kemauan untuk berubah pastilah Allah menunjukkan jalan-Nya.
Sebenarnya ada beberapa tahapan anak mulai mengenali komunikasi, berikut tahapan yang dapat saya sampaikan berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca:

  1. Tahapan ketika dalam kandungan: tahapan dalam kandungan seorang ibu adalah tahapan awal anak mulai dapat berkomunikasi dengan sang bunda, karena hal itulah diharapkan bunda memberikan awal komunikasi yang baik pada sang bayi dengan mendengarkan pembicaraan yang baik, bacaaan al-qur'an/hadist, membacakan buku cerita/buku pengetahuan, mendengarkan musik yang meransang perkembangan otak dan motoriknya
  2. Tahapan ketika keluar dari rahim ibu: tahapan ini adalah saat bayi menangis ketika ibu melahirkannya dan biasanya bidan akan memberikan tepukan sayang bila ia belum menangis, disaat inilah bisa dideteksi apa yang terlambat, kemampuan motorikkah yang membuat anak terlambat bicara atau kemampuan yang lain 
  3. Tahapan 0-12 bulan: bayi akan mengulang suara yang sama, tersenyum bila diajak berbicara, mengenali suara orang yang disekitarnya, merespon bila diajak berbicara, mulai berbicara dengan tujuan, ekspresif, mengerti perintah sederhana 
Bila ternyata anak mengalami fase berbicara yang tidak sesuai dengan tahapan seusianya, orangtua harus segera bertindak, yang pertama dilakukan adalah mengetahui penyebab dari keterlambatan tersebut. Hal ini berguna untuk mengetahui penanganan dan terapi yang tepat untuk diterapkan kepada anak.
Sedangkan dari segi agama saya menyarankan kepada orangtua untuk lebih sering melafazkan asmaul husna Al-Bayyan  yaitu kemampuan berbicara dengan jelas, kemampuan memahami suatu percakapan dan kemampuan berkomunikasi.Tengadahkanlah tangan kita tinggi untuk berdoa bermohon pada Allah swt : "Ya Allah kami bertaubat kepada Mu atas segala dosa kami, anak kami belum bisa berbicara. Engkaulah yang mengajari manusia berbicara, karunikanlah Al-Bayyan kepada anak kami. Kami mohon pada Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Kabulkanlah do'a kami.amiin".

Nah..bunda dan ayah, jangan berputus asa yah...semoga ini dapat bermanfaat.